Wednesday, May 01, 2019

Birokrasi Gak Jelas ala Jakarta

0
Wow. Bentuk blogger sekarang aneh banget dan sangat tidak familier. Rasanya seperti ngetik di Google Drive. Btw, untuk sign in ke sini aja merupakan tantangan, lho, saking lamanya aku nggak sign in. Butuh tiga kali tebakan untuk menentukan akun gmail mana yang terikat dengan blog ini.

Dan sekarang aku berasa ada di Twilight Zone ngetik ini.

Anyway...

Enam tahun sejak entry terakhirku. Dan sekarang saya sudah menikah dan hidup di luar negeri. Betapa banyak hal yang bisa berubah dalam beberapa tahun saja! Dulu kukira aku bakal jadi crazy cat lady dan meninggal sendirian dikelilingi 14 kucing di rumah orang tuaku. Senang rasanya tahu nasib berbaik hati memberikan takdir yang relatif lebih menyenangkan.

Alasanku kembali kemari adalah untuk menceritakan proses menggelikan yang kulalui waktu mencoba minta surat keterangan belum menikah dari Kelurahan di Jakarta untuk dibawa menikah di luar negeri.

Dahulu kala, ini proses yang sederhana. Jadi, aku pergi ke kelurahan dengan harapan cepat kembali membawa surat yang diperlukan. Tapi sejak seorang Gubernur baru naik takhta beberapa tahun lalu, ternyata oh ternyata, sekarang jika kamu mau menikah di Jakarta, kamu memerlukan sesuatu yang namanya Sertifikat Layak Kawin.

Wow, wow, mau kawin perlu sertifikat?

Iya. Surat ini diterbitkan oleh Puskesmas. Dan untuk mendapatkannya kamu harus diperiksa kesehatan dan konseling dahulu.

Waktu kakakku menikah sekitar dua tahun lalu nonsens ini belum ada.

Udah gitu, siapa sih yang nggak 'layak' kawin? Kok kesannya menghina banget? Bukankah semua orang layak untuk menikah?

Aku sudah menjelaskan aku mau menikah di luar negeri, dan peraturan ini hanya untuk orang-orang yang pernikahannya didaftarkan di Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama, tapi kelurahan tetap berkeras aku perlu Sertifikat Layak Kawin.

Setelah tahu aku harus diperiksa kesehatan dan konseling macam-macam soal KB, anak, dan sebagainya... You know what I did?

I said, fuck that.

Aku pun memutuskan aku tidak perlu surat keterangan belum menikah. Sejak kapan orang mau menikah privasinya harus dijajah seperti ini? Lalu kenapa kalau aku sakit? Okelah, untuk penyakit menular seksual itu memang tanggung jawabku untuk menceritakan kepada pasangan. Tapi itu juga seharusnya bukan urusan pemerintah, 'kan? Dan konseling tentang punya anak dan segalanya itu baik jika ditawarkan sebagai layanan opsional (lebih bagus lagi kalau gratis!) Tapi wajib? Heck, no. I ain't going to talk about that crap with a random stranger.

Dengan yakin aku pun berangkat tanpa membawa surat gak penting itu. Dan ternyata? Memang nggak perlu. City Hall di tempatku menikah nggak membuat surat keterangan belum menikah sebagai persyaratan untuk menikah, cukup pernyataan dariku saja bahwa aku belum pernah menikah. Memang cuma Indonesia yang punya birokrasi gak penting dan bertele-tele, semakin lama semakin menginvasi privasi penduduknya. Di luar negeri menikah itu urusan kita sendiri, dan kalau memang ketahuan bohong bilang belum menikah padahal sudah, nanti yang repot juga kita sendiri karena pernikahannya dinyatakan tidak sah.

So, fuck that, Jakarta. I'm glad I decided I didn't need your petty bureaucracy. 

Nggak heran makin banyak orang pindah ke luar negeri. Setelah aku jadi penduduk tetap di sini, rasanya aku nggak bakal pulang-pulang lagi kecuali untuk reuni dengan keluarga. Kalo bisa sebenarnya aku berharap mereka juga pindah ke sini.

Indonesia, oh Indonesia. Kamu cuma bikin capek hati.

Monday, July 15, 2013

Everything You Need To Know About Introverts

1
Source: somewhere on the internet. If you know, please comment so I can give credit where credit's due. I decided to post this because so many people do not understand what it's like to live my life.

Top 10 Myths About Introverts

Myth #1 – Introverts don’t like to talk.
This is not true. Introverts just don’t talk unless they have something to say. They hate small talk. Get an introvert talking about something they are interested in, and they won’t shut up for days.

Myth #2 – Introverts are shy. 
Shyness has nothing to do with being an Introvert. Introverts are not necessarily afraid of people. What they need is a reason to interact. They don’t interact for the sake of interacting. If you want to talk to an Introvert, just start talking. Don’t worry about being polite.

Myth #3 – Introverts are rude. 
Introverts often don’t see a reason for beating around the bush with social pleasantries. They want everyone to just be real and honest. Unfortunately, this is not acceptable in most settings, so Introverts can feel a lot of pressure to fit in, which they find exhausting.

Myth #4 – Introverts don’t like people.
On the contrary, Introverts intensely value the few friends they have. They can count their close friends on one hand. If you are lucky enough for an introvert to consider you a friend, you probably have a loyal ally for life. Once you have earned their respect as being a person of substance, you’re in.

Myth #5 – Introverts don’t like to go out in public. 
Nonsense. Introverts just don’t like to go out in public FOR AS LONG. They also like to avoid the complications that are involved in public activities. They take in data and experiences very quickly, and as a result, don’t need to be there for long to “get it.” They’re ready to go home, recharge, and process it all. In fact, recharging is absolutely crucial for Introverts.

Myth #6 – Introverts always want to be alone.
Introverts are perfectly comfortable with their own thoughts. They think a lot. They daydream. They like to have problems to work on, puzzles to solve. But they can also get incredibly lonely if they don’t have anyone to share their discoveries with. They crave an authentic and sincere connection with ONE PERSON at a time.

Myth #7 – Introverts are weird. 
Introverts are often individualists.  They don’t follow the crowd. They’d prefer to be valued for their novel ways of living. They think for themselves and because of that, they often challenge the norm. They don’t make most decisions based on what is popular or trendy.

Myth #8 – Introverts are aloof nerds. 
Introverts are people who primarily look inward, paying close attention to their thoughts and emotions. It’s not that they are incapable of paying attention to what is going on around them, it’s just that their inner world is much more stimulating and rewarding to them.

Myth #9 – Introverts don’t know how to relax and have fun.
Introverts typically relax at home or in nature, not in busy public places. Introverts are not thrill seekers and adrenaline junkies. If there is too much talking and noise going on, they shut down. Their brains are too sensitive to the neurotransmitter called Dopamine. Introverts and Extroverts have different dominant neuro-pathways. Just look it up.

Myth #10 – Introverts can fix themselves and become Extroverts.
A world without Introverts would be a world with few scientists, musicians, artists, poets, filmmakers, doctors, mathematicians, writers, and philosophers. That being said, there are still plenty of techniques an Extrovert can learn in order to interact with Introverts. (Yes, I reversed these two terms on purpose to show you how biased our society is.) Introverts cannot “fix themselves” and deserve respect for their natural temperament and contributions to the human race. In fact, one study (Silverman, 1986) showed that the percentage of Introverts increases with IQ.

How To Care For Introverts


• Respect their privacy.

• Never embarrass them in public.

• Let them observe first in new situations.

• Give them time to think. Don't demand instant answers.

• Don't interrupt them.

• Give them advanced notice of expected changes in their lives.

• Give them 15 minute warnings to finish whatever they are doing before calling them to dinner or moving on to the next activity.

• Reprimand them privately.

• Teach them new skills privately rather than in public.

• Enable them to find one best friend who has similar interests and abilities; encourage this relationship even if the friend moves.

• Do not push them to make lots of friends.

• Respect their introversion. Don't try to remake them into extroverts.

Also watch this educational video: True Facts About the Introverts
Features the quote which is basically my life: "A good way to annoy an introvert is to tell it, 'You're so quiet'. No shit, asshole, what's your point?"

Friday, July 12, 2013

The Truth Hurts... and This is Mine

1
Warning: This entry will be more 'controversial' than any of the existing ones. Also, swear words. A lot. You may be traumatized if you're not used to seeing me talk like this. If you still want to keep that sweet, happy image of me in your mind, please do not proceed.

Inget waktu aku bilang ada sisi diriku yang nggak bisa kubagi dengan siapa pun di dunia nyata kecuali orang-orang tertentu? Well... belakangan ini sisi tersebut udah terlalu lama dipendam dan sekarang ada sesuatu yang perlu dikeluarkan.

Untuk alasan tertentu, mohon maaf atas penggunaan bahasa campuran karena, damn it, the English vocab is way more expressive.

I'm perfectly aware this is a public blog which means anyone can read it if they ever found out about the URL. And even if I've never mentioned my name here, it's not like it's a huge secret either. But whatever. I need to let this out and I left my diary back home. And I don't feel comfortable dumping my drama on the people I trust not to judge (because I'm not sure they want to hear it). And maybe a part of me is also hoping that by putting this out in the open like this, then one of the people involved in the drama will read it and know the truth about what I think.

It's been a few long years filled with drama at home. It's partially (or largely, I suspect) why I fled all the way across the world. I was tired of being miserable. I couldn't live in that hell anymore. It's not my problem, and I'm young. I'm not supposed to live like that. I'm supposed to live my own life, discover myself and all that bullshit, carpe diem, and be happy.

Which I did since I got here, so that was the right decision. Maybe I should thank the drama after all since it propelled me to leave.

But anyway, the point is, my parents are not in a good place. I'm not going to into details about their drama, but suffice it to say they hate each other these days. And today I got news that they're not even talking anymore, and they're even sleeping in different rooms.

It's news like this that makes me want to beg and plead my way out of my home country and stay here forever and ever. This is my happy place.

But that's not the thing that infuriates me the most. What makes me most frustrated is the phrase that has been uttered over and over again during the whole time this happened: that I am supposed to be their salvation. People keep saying I'm the only one who can fix this situation, who can return peace into our home, who can make my parents see the light.

Well, GUESS WHAT, WORLD? I'M NOT A FUCKING MESSIAH.

I can't solve your problems. It's YOUR problem. It's YOUR drama. Why the F should I involve myself in it. Why the F should I have to be the one to fix it. THIS MAKES NO SENSE. They are my parents. Maybe they should help me fix my problems, but it isn't the other way around. They're grown ass people. They're supposed to KNOW BETTER. They're supposed to be wiser. To place this burden on me like so many people have is fucking unfair.

What if I don't want to 'save' my family? What if I'd rather they get separated and be happy each with their own lives? Nobody has ever asked me that. Of course not. Of course everyone assumed that I wanted us to stay a family. But guess what? This may come as a shock, but there's no point in keeping up the illusion if nobody's actually happy. Maybe it's time to cut our losses and give up. Maybe it's past saving. Maybe we'll ALL be MUCH HAPPIER if we were NOT together.

Did they ever think of that?

Of course not.

It is times like these that I wish we weren't a bunch of people stuck in old principles and ideas about love and family. Because let's face it; the love's gone. It has been gone for a long time. And maybe nothing will ever bring it back. And sometimes, you just have to accept it and move on. Sometimes, you're not meant to keep fighting. Because it'll only make things worse.

If the choice were to stick to your 'obligation' and stay together for the sake of image or pride or whatever or do what needs to be done so you can be free and happy, why the hell would anyone pick the former? I'm a hopeless romantic, and even I can see that this situation is not salvageable. You can't force someone to love you if they don't anymore.

Or maybe I'm just a cynic and a pessimist.

But I'm also realistic. I know one of them is not the kind of people who believe in divorce, but it's not like they haven't done it before. If it was so easy the first time, why is it so hard now? It's not like their kids are all still young. We're all grown ass adults too now. One of us is married. I'm the youngest and I'm a freaking quarter of a century old. So what, I ask again, is the point of staying together?

No one's going to get beaten up over it. I suspect I will actually throw a celebration if they finally did it.

For God's sake. It's all very simple to me, but people are being ridiculously idealistic and I'm just so angry. I'm not even sad or upset anymore. I'm freaking FURIOUS over this whole situation.

Sort your stuff out; you're all behaving like children. And I thought you're supposed to be the parents.

No love,
- Your apparently much more mature daughter

And this is my truth. I've finally set it free.

Judge me for that all you like, I don't even effing care anymore.

Wednesday, June 19, 2013

Terinspirasi...

4
Setiap kali aku kembali mengunjungi Superbyq, aku jadi terinspirasi untuk nulis di sini lagi... Sayangnya, aku selalu lupa untuk berkunjung ke sana lebih sering *ditimpuk*

Rasanya aneh nulis pake bahasa Indonesia lagi. Setelah beberapa tahun terakhir aku mulai berpikir dan bermimpi dengan bahasa Inggris, dan setahun terakhir betul-betul tinggal di negara berbahasa Inggris, rasanya aku makin kehilangan bahasa ibuku aja. Sempet berpikir untuk nulis ini dengan bahasa Inggris juga, tapi... blog ini udah konsisten ditulis dengan bahasa Indonesia, dan ini mungkin berguna sebagai tantangan untuk kembali mengenali bahasaku sendiri.

Mikirin soal Byq dan pertemanan lagi, aku jadi kepikiran satu hal yang pernah aku singgung ke dia beberapa waktu lalu. Aku bukan orang yang punya banyak temen. Temen sungguhanku bisa diitung dengan jari, dan sahabat aku cuma punya tiga. Walau begitu, aku punya jenis temen yang berbeda-beda. Dan rasanya, mereka kenal aku dengan cara yang berbeda-beda pula.

Sahabat-sahabatku kenal sisi terbaikku. Mereka sudah kenal aku sejak SMA, tapi masih banyak hal-hal tentang aku yang nggak kuceritakan pada mereka. Banyak 'rahasia' yang kusimpan dari mereka, banyak pikiran-pikiran yang nggak kubagi. Byq kenal sisi 'kurang sempurna'ku. Dia kenal bagian dari diriku yang bitter, terutama di masa-masa kita kuliah. Dan bagaimana aku bukan calon ibu yang baik dan nggak sesabar yang sahabat-sahabatku mungkin kira. Ada alasan kenapa orang-orang tertentu mengenal sisi-sisi yang berbeda. Karena nggak semua dari mereka bakalan mengerti sisi-sisi tersebut. Sahabat-sahabatku, misalnya, nggak akan ngerti kalo aku komplain soal universitas tercintaku. Mereka nggak akan ngerti kalo aku betul-betul pengen ngebom tempat itu. Dan mereka nggak akan ngerti bagaimana lima tahunku di sana penuh kesengsaraan. Byq mengerti, dan bukan hanya karena kami melaluinya bersama-sama.

Apakah kita berbagi hal-hal tertentu dengan orang-orang tertentu tergantung dengan hubungan kita dengan mereka? Absolutely. Aku merasa nyaman mengumbar semua sisi kurang menarikku di depan Byq karena aku tahu: she won't judge me. Ironis karena sahabat justru orang yang seharusnya punya definisi itu, tapi... kenyataannya aku nggak merasa nyaman membagi beberapa fakta tentang diriku dengan mereka yang kupanggil sahabat. Bukan salah mereka, sih. Some judgments we make subconsciously. Without even meaning it.

Teman-temanku yang aku kenal dari dunia online mengetahui sisiku yang lain lagi. Mereka mengenal sisi penulisku, mereka tahu betul gaya menulisku, tipe jalan cerita favoritku, tipe-tipe karakterku, nama-nama karakter favoritku. Obsesi-obsesiku terhadap karakter-karakter fiksi di media. Mereka mengenalku sebagai orang yang sangat berbeda dengan yang dikenal keluarga dan teman-temanku. Mereka juga melihat sisi-sisiku yang jarang atau bahkan nggak pernah diperlihatkan ke orang lain. Hal-hal yang kutulis yang mungkin shocking buat orang-orang lain dalam hidupku. (Percaya deh, nggak semua tulisanku bisa kuperlihatkan ke orang-orang di sekitarku). Dan dengan cara yang sama, I'm never afraid that they will judge me or my writing.

Punya jenis-jenis temen yang berbeda itu mengagumkan. Karena setiap orang punya sisi yang berbeda-beda walaupun tanpa multiple personality disorder. Rasanya aku nggak punya satu orang dalam hidupku yang kenal semua sisi diriku. Mungkin itu sebabnya aku belum menemukan Mr. Right... Karena aku masih belum merasa nyaman betul-betul jadi diriku sendiri sepenuhnya dengan siapa pun.

P.S. Abis baca-baca entry lama, jadi inget persaingan 'sehat'ku dengan sepupuku yang akhirnya juga masuk universitasku tercinta. Mau tahu update terakhir dari persaingan kami? Tahun ini dia juga sekolah di UK, tepatnya di Newcastle. Hebat kan?

Thursday, November 10, 2011

Tentang Pertemanan

7
Hari ini entah kenapa tiba-tiba rindu mengecek blog ini. Tepatnya beberapa hari lalu sih, untuk tujuan yang aku udah lupa, aku perlu ngecek blog ini. (Oh iya, buat ngecek tipe personality yang hasilnya ku-posting di sini waktu itu) Saking udah lama nggak pernah dibuka, harus ngetik full address blog-nya di browser karena sejak make laptop terakhir ini belom pernah buka sama sekali. Agak sedih memang. Tapi kemarin pun aku cuma baca-baca ulang beberapa entry lama (aneh nggak sih kalo aku suka melakukan ini? Apa aku satu-satunya blogger yang suka baca-baca ulang entry lama?) lalu move on lagi. Baru hari ini, waktu nggak ada kerjaan dan pengen buka sesuatu yang baru, aku pun membuka kembali blog ini dan akhirnya teringat untuk mengecek apakah Mel/Byq tetap meng-update Superbyq-nya selama aku absen sepenuhnya dari dunia blog selama ini.

Tentu saja dia tetap update. Dan aku pun pertama-tama meng-klik bulan terakhir di mana aku masih membaca Superbyq dan mencoba catch up dari sana. Ada banyak sekali entry yang menungguku dan ini kayanya bakal makan waktu seharian. Tapi beberapa jam kemudian aku nggak sadar udah menghabiskan waktu lama nongkrongin Superbyq dan membaca-baca semua entry yang aku lewatkan selama ini. Dan aku menikmatinya.

Ini bukan betul-betul perjalanan ke masa lalu. Tapi ini mengingatkanku akan kebiasaan burukku kalo udah lulus/naik kelas: melupakan orang-orang yang sudah lama nggak kutemui. Kata orang mempertahankan teman itu lebih susah daripada mencari teman. Buatku dua-duanya susah. Malah mungkin mencari teman baru lebih susah. Makanya aku selalu lebih senang mencoba mempertahankan hubungan. Temen-temen SD-ku udah pada nggak tau ke mana dan hanya kadang-kadang masih kontak karena adanya Facebook dan/atau BBM, dan satu-satunya kelompok teman yang berhasil kupertahankan untuk tetep deket (baca: jalan bareng setidaknya beberapa bulan sekali) adalah teman-teman SMA-ku. Yang lain udah jarang ketemu, tapi kami berempat masih rajin jalan dan selalu berusaha menyempatkan diri ketemu. Akhir-akhir ini makin susah karena semuanya kerja dan satu sekolah di luar negeri (kecuali aku yang malas ini), tapi kami mencoba tetap nggak lost contact.

Membaca Superbyq membuatku kangen dengan Mel. Mungkin dia akan kaget karena kami nggak pernah sedeket itu ataupun melakukan hal-hal yang terlalu emosional semasa pertemanan kami. Hubungan kami adalah hubungan simbiosis mutualisme dan kedekatan yang terjadi hanya ada di kampus. Kami cukup tahu hal-hal basic tentang satu sama lain dan itu sudah cukup. Tapi dia satu-satunya temanku yang konstan semasa kuliah; satu-satunya orang yang kukenal dan tetep ada di deketku dari semester pertama sampe semester terakhir. Dengan caranya sendiri, she is important to me. Tanpa dia mungkin aku nggak bakal sanggup melewati hari-hari penuh cobaan di universitas kami tercinta itu (Dramatis mode: ON). As cheesy as it sounds, she was my rock. Dan aku nggak mau hanya karena kuliah sudah berakhir untuk kami berdua, lalu pertemanan kami pun berakhir.

Gagal mengikuti blognya adalah tanda aku mulai 'melupakan' dia. Membaca blog dengan setia adalah perbuatan yang sangat sepele dan gampang dilakukan. Intinya, kalo itu aja nggak bisa, rasanya aku nggak niat banget mempertahankan pertemanan kami. Jadi mulai hari ini aku mau mencoba lagi. Aku mau mencoba jadi temen yang nggak pelupa dan yang gampang kena fenomena out of sight, out of mind.

Tentu saja, nggak semua orang ingin mempertahankan hubungan. Baru-baru ini aku juga mencoba untuk reach out pada seseorang yang sudah nggak kontak denganku sama sekali selama lebih dari lima tahun. Seorang teman, dan, yah... sesuatu yang lebih. Mungkin itu alasannya dia tidak tertarik untuk berteman lagi. Yang membuatku merasa sedikit konyol, sudah lama aku berniat melakukan ini dan membayangkan kami bisa berteman lagi dan menghapuskan semua peristiwa nggak enak yang mungkin pernah terjadi gara-gara emosi dulu. Aku sudah membayangkan semua pasti bisa kembali menyenangkan lagi kalau saja aku mau reach out lebih dulu, karena dulu memang aku juga yang shut him out.

Tapi aku konyol karena sama sekali nggak menyangka mungkin saja dia tidak tertarik melakukan hal yang sama. Lagi-lagi aku jatuh karena pride, karena bahkan kemungkinan bahwa seseorang segitu nggak niatnya ngomong sama aku pun nggak terlintas di pikiranku sekali pun. Mungkin dia menganut prinsip; yang lalu biarlah berlalu. Dan karena toh kami sudah putus kontak segitu lama, buat apa kontak lagi? Buat apa catch up? Buat apa saling bertanya kabar dan berbasa-basi? Kami sudah jadi orang yang sangat berbeda. Apa gunanya?

Bukannya aku nggak pernah mengabaikan pertanyaan apa kabar basa-basi dari teman lama. I'm guilty of that too. Tapi itu teman yang memang nggak pernah akrab denganku dan, jujur saja, itu sama rasanya dengan orang-orang yang hampir nggak pernah kuajak ngobrol yang meng-add-ku di Facebook hanya karena kami pernah sekelas. Bukan orang yang pernah punya history denganku. Yang ingin kulakukan dengan mencoba mengontak dia kembali hanyalah untuk mencoba berteman lagi. Sama sekali nggak ada niat untuk mengulang kembali apa yang sudah terjadi dan terbukti nggak berhasil, kok. I just wanted to be in good terms with him again. That's all.

Tapi setelah jawaban yang ditunggu pun tidak muncul, akhirnya aku mengerti bahwa untuknya, sudah nggak ada alasan bagi kita untuk membicarakan apa pun lagi. Dulu kukira dia bukan tipe orang seperti itu tapi mungkin orang berubah. Atau mungkin ini semua salahku sendiri karena aku yang mendorongnya pergi lebih dulu. Ya sudahlah. Aku tidak terlalu kecewa. Some friends will be lost. Aku hanya berharap aku nggak melakukan kesalahan yang sama dengan teman-temanku yang lainnya yang pernah jadi bagian penting hidupku.

Mari mulai berhenti take for granted semua orang di sekitar kita.

Thursday, July 01, 2010

Kisah Petualangan Seorang Mahasiswi Sulit Lulus ke Masa Lalu

1
Memutuskan untuk meng-update blog ini setelah mendapatkan bahan cerita baru. Apalagi setelah pembicaraan sama Mel tadi sore...

Mel: Saking sibuknya ngerjain skripsi, blog-ku ampe terlantar.
Aku: Oh ya? *seneng dapet temen senasib* Akhirnya blog-mu terlantar juga!
Mel: Iya, udah DUA HARI sejak aku terakhir nge-post...
Aku: .........................................................

Hari ini aku berkunjung ke SMA-ku tercinta (perlu ditekankan lagi bahwa ini berbeda dengan waktu aku mengatakan ‘universitasku tercinta’. Yang satu mengandung sarkasme dan yang satu tidak. Coba tebak mana yang tulus dan mana yang sarkastis.) untuk melegalisir ijazah lagi untuk universitasku tercinta yang suka ngerepotin orang dengan masalah nggak penting (jelas-jelas ijazah udah dikasi dari zaman pendaftaran dulu.. emang mau diapain lagi sih?) sebagai persyaratan sidang skripsi.

Oh, ya! Mahasiswi yang nggak lulus-lulus ini akhirnya sudah akan sidang skripsi! Hore!

Statusnya hari ini adalah: H-8 menuju deadline skripsi.
Berapa kali aku pernah belajar/mengerjakan apa pun yang berhubungan dengan tugas sekolah/kuliah sampai jam tiga pagi sepanjang hidupku: 0 (NOL)

... sampai KEMARIN MALAM.

Minggu neraka sudah dimulai.

(Well, setidaknya ini dimulai seminggu sebelumnya, bukan sehari sebelumnya seperti seorang mahasiswi nggak lulus-lulus lain yang kita kenal waktu mengerjakan KP-nya… *lirik-lirik blog sebelah*)

Oke. Kembali ke kunjungan ke SMA-ku tercinta. Berhubung ini udah masa libur, maka nggak seorang pun anak SMA imut-imut yang pake seragam terlihat di sekolah. Yang ada malah tukang-tukang bangunan yang sepertinya sedang merenovasi bangunan sekolahku… LAGI. Kayak belom cukup aja aku nggak ngenalin tuh tempat lagi.

Pos satpam tempat aku biasa turun udah nggak ada. Jadi aku masuk dari satu-satunya pintu terdekat yang terlihat.

Di depan pintu ketemu salah satu mantan guru BP-ku. Dia masih inget aku *senang* Aku juga inget dia, dibuktikan dengan bagaimana otakku langsung menyuplai namanya dengan mudah. Aku menjelaskan tujuan kedatanganku dan segera melanjutkan misiku.

Masuk ke dalem… tengak-tengok. Kantor TU di mana yah? Apakah ruangan berbentuk kantor guru yang penuh orang itu? Celingak-celinguk, ruangan ini enggak ada papan namanya! Sungguh nggak membantu. Insting mengatakan di atas, jadi aku naik ke lantai 2, yang adalah tempat ruang guru & TU semasa aku sekolah dulu… lima tahun yang lalu.

Dan berhubung semuanya udah berubah, tentu saja kantor-kantor itu udah nggak di tempatnya semula. Yang ada lab-lab keren praktikum yang modern yang dulu kami nggak pernah punya.

Sh!t. Aku bener-bener kesasar.

Turun lagi dan celingak-celinguk kayak anak ilang.

Lewat lagi di depan ruang berbentuk kantor guru yang penuh orang itu dan kali ini berpapasan dengan mantan guru SD-ku. Dia juga masih inget aku (Astaga, kok aku bisa nempel banget di ingetan guru-guru ini padahal aku udah ansos dari dulu), terus dia langsung nodong nanya apa aku masih inget dia. Kubilang inget, dan untungnya aku emang inget. Masih nggak yakin, dia nanya siapa namanya. Dengan PD aku langsung menyebutkannya. Terima kasih, otak dan memori jangka panjang yang baik! (Untung aku gak ketemu beberapa guru yang aku MEMANG lupa namanya, yang sempat kuceritakan di kunjungan terakhirku ke SMA ini… Ga enak banget kan kalo harus bilang, “Er… anu, Bu, saya inget muka Ibu, tapi nama Ibu siapa ya?”)

Akhirnya, dengan bijaksana memutuskan untuk bertanya ke orang yang paling aman untuk ditanyai: Pak Satpam! Untungnya dia ada di deket pintu. (Begitu juga dengan mantan guru BP-ku, tapi kok nggak enak ya rasanya nanyain sama dia ruang TU di mana serasa bukan mantan murid situ…) Pak Satpam tua yang baik itu pun memberi petunjuk bahwa ruang TU ada di lantai 3.

Naik-naiklah aku ke puncak gunung dan teringat betapa melelahkannya dulu mendaki tangga setiap hari itu. Di depan sebuah ruangan ada seorang ibu-ibu dan anaknya lagi duduk. Kusimpulkan bahwa ini ruang TU. Aku mengintip ke dalam dan bilang permisi sama ibu-ibu TU yang sumpah-aku-ga-pernah-tau-namanya-padahal-dulu-sering-nemenin-Tama-beli-kertas-ulangan-sama-dia… dan menjelaskan maksud kedatanganku. Katanya, suruh tinggal aja ijazahnya. Terus dia bilang, “Kok cuma selembar? Tanggung amat, daripada bolak-balik fotokopi aja dulu lima lembar gitu.”

Hoe. Oke deh… Aku bertanya apa di sekitar situ ada tempat fotokopi. (Dulu ada, tapi sekarang SUSAH BANGET menemukan apa pun lagi.) Dia bilang ada di bawah. BAWAH. Bawah… dengan yakin ga butuh petunjuk lebih lanjut, aku dengan sok tau pergi ke bawah.

Ga ketemu, tentu saja. Aku inget di mana tempat fotokopi itu berada lima tahun yang lalu, tapi akibat renovasi total, aku nggak bisa mengenali apa-apa lagi. Aku mencoba membayangkan letak tempat fotokopi itu dulu dan di mana dia bakal berada sekarang… dan gagal. (Aku memang lemah dalam hal persepsi ruang.) Lagian, kayanya nggak mungkin deh tuh tempat fotokopi masih ada di sana kalo semua tempat di sekitarnya udah digusur. (Atau lebih tepatnya, DITEMBOK.)

Terpaksa aku bertanya pada Pak Satpam yang baik lagi. Eh, dia malah bilang suru pergi ke tempat fotokopi yang di luar. Yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki tapi agak jauh. Aku akhirnya menyuruh supirku ke sana, tapi dia dengan baik hati menawarkan diri untuk jalan kaki ke sana. Oke deh. Aku pun menunggu di dalam mobil yang ber-AC seperti Princess yang baik.

Tak lama kemudian dia kembali dengan lima kopi ijazahku. Aku pun kembali ke TU. Bertanya-tanya apa ada yang sudah mulai curiga dari tadi anak aneh yang bukan penduduk sekolah ini mondar-mandir gak jelas mau ngapain. Sampai di TU, ibu-ibu TU sudah nggak ada. Yang ada bapak-bapak TU (aku tahu, AKU TAHU, aku payah banget dalam mengingat nama orang-orang administrasi) yang lagi telpon. Aku memutuskan menunggu di depan pintu yang sedikit terbuka.

Telponnya gak kelar-kelar.

Ibu-ibu yang bawa anaknya itu masih dengan sabar menunggu (kayaknya menunggu Kepala Sekolah yang lagi MIA). Dia menangkap mataku terus senyum. Aku otomatis senyumin balik, walaupun otak udah berteriak-teriak panik, “Um. Ada apa ini? Aku gak kenal dia. Aku gak kenal dia kan??”

Telponnya masih gak kelar-kelar.

Setelah sekitar lima menit, memutuskan untuk duduk di sebelah sang ibu, yang ternyata emang orangtua murid dan aku gak kenal (maklum, aku nggak terbiasa ngasih senyum ke orang tak dikenal. Kepanikan tadi murni disebabkan oleh betapa ansosnya saya…). Kenapa aku bisa tahu? Karena dia nanya, “Mau masuk ya?”

Aku berpikir: Maksudnya mau masuk TU atau masuk SMA sini? Dua hal yang sangat berbeda. Yang satu jawabannya ya, yang satu jawabannya tidak.

Akhirnya memutuskan untuk mengklarifikasi kedua pertanyaan sekaligus dengan bilang bahwa aku mau legalisir ijazah. Dia bilang, “Oh… kirain baru mau masuk sini.”

Um. Oke deh. Se-absurd apa pun itu, aku senang karena tampangku masih pantes dikira anak lulusan SMP yang baru mau masuk SMA.

Si ibu-ibu kemudian menginterogasiku, nanyain kuliah di mana lah, jurusan apa lah, IMC itu ngapain lah (SERIUS DEH, itu selalu hal pertama yang ditanyakan semua orang. Pembicaraannya selalu berjalan seperti ini… Orang: Kamu ambil jurusan apa? Aku: Komunikasi. Orang: Ada pembagian lagi? Konsentrasinya apa? Aku: IMC/Marketing Communication. Orang: Marketing Communication itu apa ya/ngapain aja ya? Aku: *menjelaskan untuk keseribu kalinya, dan setiap kali masih merasa nggak yakin aku sendiri ngerti* Biasanya kalo males aku cuma bilang, “Oh, itu advertising.” Dan aku nyaris bisa merasakan tatapan tajam dosen tercinta Mel kalo dia ampe denger penjelasan ngaco ini…)

Begitulah pembicaraan itu berlanjut. Bukannya nanyain soal bagus nggak SMA-ku itu, dia malah nanyain soal kuliahku. Jangan sampe dia berniat masukin anaknya ke universitasku tercinta… Oh tidak, jangan-jangan aku telah nggak sengaja menjerat mangsa baru! Seharusnya dia tanya-tanya soal SMA-ku aja, dong! Kan anaknya mau masuk SMA? Aku akan dengan senang hati mempromosikan SMA-ku dan bilang bahwa hari-hari terindahku kuhabiskan di sana… (walaupun sekarang kurikulum dan segalanya udah berubah drastis dan pendapatku pasti nggak valid lagi. Aduh. Aku baru saja memakai kata valid. SKRIPSI SIALAN!)

Ada satu titik di mana aku butuh waktu beberapa detik untuk menjawabnya.

Ibu-ibu itu: Komunikasi itu berapa tahun ya?
Aku: ………… Empat tahun.

SECARA TEKNIS, aku gak bohong. Kuliah komunikasi yang normal emang cuma empat tahun, tiga setengah malah kalo anaknya rajin mampus. Lima tahun itu kan cuma aku. Jadi bener kan jawabanku? Kan dia nanyanya kuliah komunikasi berapa tahun. Bukan kuliahku berapa tahun…

Tapi aku jadi khawatir kebohonganku ketahuan waktu dia nanya lagi,

Ibu-ibu itu: Kamu lulus dari sini tahun berapa?
Aku: …………… 2005. *membayangkan otaknya bekerja menghitung-hitung ini sudah tahun berapa… di mana kibulanku tadi bakal langsung ketahuan. Untungnya, kalau dia menyadari keanehan itu, dia nggak nanya lagi. Syukurlah…*

Sementara itu,

TELPONNYA MASIH GAK KELAR-KELAR.

Terus ada bapak-bapak dateng, di mana aku bertanya-tanya apa ini Kepala Sekolahnya yang sekarang (bukan, ternyata), dan begitu dia masuk TU, berapa detik kemudian bapak-bapak TU selese nelpon dan melayani dia! ARGH! Aku mulai gak tahan duduk di situ. Aku harus cepet-cepet ke kampus.

Mana panas mampus lagi. Entah global warming atau apa, tapi aku nggak inget udaranya sepanas itu di luar kelas dulu waktu aku sekolah di sana. Kayaknya dulu teduh deh. Tapi tadi pagi bener-bener serasa di oven.

Apa karena itu di lantai tiga yah? Padahal ruangan-ruangannya udah dimundurin lagi dan makin jauh dari balkon terbuka daripada waktu aku di sana dulu… Sungguh aneh.

Akhirnya memutuskan untuk memotong pembicaraan bapak-bapak TU dan bapak-bapak tak dikenal karena aku kan cuma mau naro ijazah doang. Si ibu-ibu dan anaknya tenang banget serasa di ruangan ber-AC, tapi aku udah nggak tahan. Jadi aku pun berdiri dan mengintip ruang TU lagi…

Dan dengan keajaiban (atau entah karena melihat aku yang dari tadi nungguin mo masuk), si bapak-bapak tak dikenal tiba-tiba pamit pada bapak-bapak TU dan pergi pas aku sampai di depan pintu. SYUKURLAH! Aku pun meninggalkan ijazahku, walaupun gak jelas kapan bisa diambilnya (kalo hari itu Kepseknya dateng baru besok bisa diambil… Apakah sang Kepsek sedang liburan juga?).

Aku pun pamit pada si ibu-ibu orangtua murid dan cepat-cepat kabur dari situ. Turun tangga satu lantai, dengan bodohnya langsung belok kiri ke arah luar… dan menyadari bahwa INI KAYAKNYA BUKAN JALAN KELUAR YANG TADI DEH. Aku menemukan diriku di depan aula olahraga, di mana dulu V pernah ngumpet waktu telat masuk kelas Ekonometri gara-gara semua anak yang telat wajib joget di depan kelas. Dengan bodoh menyadari bahwa aku masih di lantai dua, bukan lantai satu.

ARGH! Kesasar di SMA sendiri, nggak lucu banget. Merasa bodoh, turun tangga lagi dan AKHIRNYA keluar dengan selamat.

Hari Senin kayaknya baru aku niat balik ke sana. Daripada Jumat dateng tapi ternyata belom ditandatangan…

Doakan petualanganku ke sana waktu mengambil ijazah yang udah dilegalisir nggak begitu penuh halangan dan rintangan seperti hari ini, ya! (Dan supaya aku nggak kebetulan bertemu guru yang aku lupa namanya… terus juga supaya aku lebih nyadar arah dan bisa mengingat jalan dengan betul.)

Thursday, April 15, 2010

Jung Personality Type Test

1
Udah pernah dites dulu, tapi belom pernah disimpen. Kayanya blog tempat yang bagus untuk naro ini...

ISFJ Profile (Introverted Sensing Feeling Judging) Analysis

ISFJs are characterized above all by their desire to serve others, their "need to be needed." In extreme cases, this need is so strong that standard give-and-take relationships are deeply unsatisfying to them; however, most ISFJs find more than enough with which to occupy themselves within the framework of a normal life. (Since ISFJs, like all SJs, are very much bound by the prevailing social conventions, their form of "service" is likely to exclude any elements of moral or political controversy; they specialize in the local, the personal, and the practical.)

ISFJs are often unappreciated, at work, home, and play. Ironically, because they prove over and over that they can be relied on for their loyalty and unstinting, high-quality work, those around them often take them for granted--even take advantage of them. Admittedly, the problem is sometimes aggravated by the ISFJs themselves; for instance, they are notoriously bad at delegating ("If you want it done right, do it yourself"). And although they're hurt by being treated like doormats, they are often unwilling to toot their own horns about their accomplishments because they feel that although they deserve more credit than they're getting, it's somehow wrong to want any sort of reward for doing work (which is supposed to be a virtue in itself). (And as low-profile Is, their actions don't call attention to themselves as with charismatic Es.) Because of all of this, ISFJs are often overworked, and as a result may suffer from psychosomatic illnesses.

In the workplace, ISFJs are methodical and accurate workers, often with very good memories and unexpected analytic abilities; they are also good with people in small-group or one-on-one situations because of their patient and genuinely sympathetic approach to dealing with others. ISFJs make pleasant and reliable co-workers and exemplary employees, but tend to be harried and uncomfortable in supervisory roles. They are capable of forming strong loyalties, but these are personal rather than institutional loyalties; if someone they've bonded with in this way leaves the company, the ISFJ will leave with them, if given the option. Traditional careers for an ISFJ include: teaching, social work, most religious work, nursing, medicine (general practice only), clerical and and secretarial work of any kind, and some kinds of administrative careers.

While their work ethic is high on the ISFJ priority list, their families are the centers of their lives. ISFJs are extremely warm and demonstrative within the family circle--and often possessive of their loved ones, as well. When these include Es who want to socialize with the rest of the world, or self-contained ITs, the ISFJ must learn to adjust to these behaviors and not interpret them as rejection. Being SJs, they place a strong emphasis on conventional behavior (although, unlike STJs, they are usually as concerned with being "nice" as with strict propriety); if any of their nearest and dearest depart from the straight-and-narrow, it causes the ISFJ major embarrassment: the closer the relationship and the more public the act, the more intense the embarrassment (a fact which many of their teenage children take gleeful advantage of). Over time, however, ISFJs usually mellow, and learn to regard the culprits as harmless eccentrics :-). Needless to say, ISFJs take infinite trouble over meals, gifts, celebrations, etc., for their loved ones--although strong Js may tend to focus more on what the recipient should want rather than what they do want.

Like most Is, ISFJs have a few, close friends. They are extremely loyal to these, and are ready to provide emotional and practical support at a moment's notice. (However, like most Fs they hate confrontation; if you get into a fight, don't expect them to jump in after you. You can count on them, however, run and get the nearest authority figure.) Unlike with EPs, the older the friendship is, the more an ISFJ will value it. One ISFJ trait that is easily misunderstood by those who haven't known them long is that they are often unable to either hide or articulate any distress they may be feeling. For instance, an ISFJ child may be reproved for "sulking," the actual cause of which is a combination of physical illness plus misguided "good manners." An adult ISFJ may drive a (later ashamed) friend or SO into a fit of temper over the ISFJ's unexplained moodiness, only afterwards to explain about a death in the family they "didn't want to burden anyone with." Those close to ISFJs should learn to watch for the warning signs in these situations and take the initiative themselves to uncover the problem.

Famous ISFJs:
St. Teresa of Avila (Teresa de Jesus)
Louisa May Alcott
Alfred, Lord Tennyson
Queen Elizabeth II of England
Robert E. Lee
Queen Mary I ("Bloody Mary") of England

Guardian Portrait of the Protector (IFSJ)

We are lucky that Protectors make up as much as ten percent the population, because their primary interest is in the safety and security of those they care about - their family, their circle of friends, their students, their patients, their boss, their fellow-workers, or their employees. Protectors have an extraordinary sense of loyalty and responsibility in their makeup, and seem fulfilled in the degree they can shield others from the dirt and dangers of the world. Speculating and experimenting do not intrigue Protectors, who prefer to make do with time-honored and time-tested products and procedures rather than change to new. At work Protectors are seldom happy in situations where the rules are constantly changing, or where long-established ways of doing things are not respected. For their part, Protectors value tradition, both in the culture and in their family. Protectors believe deeply in the stability of social ranking conferred by birth, titles, offices, and credentials. And they cherish family history and enjoy caring for family property, from houses to heirlooms.

Wanting to be of service to others, Protectors find great satisfaction in assisting the downtrodden, and can deal with disability and neediness in others better than any other type. They are not as outgoing and talkative as the Provider Guardians [ESFJs], and their shyness is often misjudged as stiffness, even coldness, when in truth Protectors are warm-hearted and sympathetic, giving happily of themselves to those in need.

Their reserve ought really to be seen as an expression of their sincerity and seriousness of purpose. The most diligent of all the types, Protectors are willing to work long, hard hours quietly doing all the thankless jobs that others manage to avoid. Protectors are quite happy working alone; in fact, in positions of authority they may try to do everything themselves rather than direct others to get the job done. Thoroughness and frugality are also virtues for them. When Protectors undertake a task, they will complete it if humanly possible. They also know better than any other type the value of a dollar, and they abhor the squandering or misuse of money. To save, to put something aside against an unpredictable future, to prepare for emergencies-these are actions near and dear to the Protector's heart. For all these reasons, Protectors are frequently overworked, just as they are frequently misunderstood and undervalued. Their contributions, and also their economies, are often taken for granted, and they rarely get the gratitude they deserve.

Mother Teresa, George H.W. Bush, Jimmy Stewart, and Tsar Nicholas II are examples of Protector Guardian style.

Friday, March 19, 2010

Cerita Dari Singapura.. Sekitar Sebulan Yang Lalu

3
Hmm.. hmm.. Mulai banyak debu lagi nih. Mulai banyak sindiran-sindiran dari Mel baik di shoutbox maupun entry-entrynya. Aku jadi ga enak disebut-sebut terus, promosi gratisnya sering banget sih.

Udah lama kepikir pengen update soal ke Singapur kemaren. Kok kayanya kalo ke sana, kerjaannya itu-itu aja yah. Dengan perkecualian kunjungan bisnis dan segala macem urusan orangtuaku, aku kayanya cuma punya sedikit tujuan tertentu:

- Makan Hainan Chicken Rice di Food Republic (namanya General something gitu deh.. itu udah terjamin enak) atau di lantai paling atasnya Far East Plaza (sama enaknya, mungkin lebih enak)
- Nyari es krim potong yang dijual di sepanjang jalan Orchard di gerobak-gerobak dan dimakannya pake wafer, rasanya juga udah selalu sama: Mocha Chip (yang paling enak)
- Mengunjungi trio toko buku utama yang sudah menjadi tujuan pasti: Sunny Bookshop di Far East Plaza (toko second-hand books, bisa rental pula, murah), Borders di Wheelock Place, dan Kinokuniya di Takashimaya (super besar dan terlengkap dari semuanya!)

Hmm... hmm. Apa lagi ya?

Selain itu sih nemenin yang lain shopping ke mana saja. Tujuanku kayaknya cuma tiga itu aja. Agak menyedihkan memang, tapi karena udah keseringan ke sana jadi gak tau mau ngapain lagi. Aku sih ke sana cuma untuk me-restock koleksi buku-buku imporku aja, soalnya di sini gak ada toko buku impor yang jual buku-buku sebanyak itu, apalagi yang baru-baru. Mengingat sekarang aku udah jadi pembaca eksklusif buku-buku impor, akhirnya kami ke sana setiap beberapa kali setahun, walaupun tumpukan buku-bukuku yang belom dibaca tampaknya ga menyusut-menyusut walaupun udah berbulan-bulan gak pergi. Kayaknya aku beli buku jauh lebih cepet daripada kemampuanku membacanya. Laper mata terus nih.

Udah gitu sekarang udah sukses belanja di Amazon.com, jadi ketagihan belanja di sana terus. Hiks! Kartu kreditku yang malang! Cuma yang nyebelin ya ongkos kirimnya yang gak kira-kira itu... Kapan ya ada cabang Amazon.com di Indonesia? Kalo udah ada, aku jadi orang terbahagia sedunia deh, bisa shopping buku dari rumah tanpa biaya tambahan yang banyak.

Wow, ngelanturnya jauh banget. Satu hal lagi yang mau kuceritain adalah sesuatu yang membuka aib keluargaku....

....

Yaitu, ternyata mamaku sama kleptonya dengan tanteku!!

(Itu loh, yang nyolong penjepit jahe di Sushi Tei di entry kapan itu, dan yang pengen bawa pulang botol Equil ijo cantik itu)

Mungkin malah mamaku sumbernya. Mungkin kedua kakak beradik ini saling mengajari satu sama lain!

Dan kemaren aku dipaksa menjadi kaki tangan proses klepto ini T_T

Dari sejak aku kecil, mamaku udah senang ngambilin perabotan makan yang ada di pesawat. Dan mengingat kami sering banget naik pesawat, koleksi kita udah nggak kira-kira. Semua sendok, garpu, tempat puding bahkan tempat sambel di rumah berasal dari pesawat. Bahkan mungkin ada yang punya logo Garuda Indonesia segala. Biasanya aku cuma geleng-geleng melihat perbuatan ilegal ini.

Tapi kemaren, berhubung aku yang duduk di pojokan deket tas, aku dipaksa menjadi kaki tangan penyelundup barang-barang tersebut! Dengan sangat merasa berdosa akhirnya aku menerima sendok-sendok garpu itu dan menyelipkannya ke tas kami! Jadi sekarang aku sudah secara resmi menjadi bagian dari Operasi Penyelundupan/Kleptomania Perabotan Makan dari Pesawat. Ugh! Wahai para maskapai penerbangan, ampunilah kami sebab mamaku tidak tahu apa yang ia perbuat!

Wednesday, January 20, 2010

Negeriku Sayang, Negeriku Malang...

4
Udah ngeliat sinetron rip-off Avatar yang baru diputer itu? Aku udah denger beritanya dari Twitter beberapa hari lalu (karena aku nggak pernah nonton channel lokal dalam sekitar lima tahun terakhir, dan INI adalah persis sebabnya kenapa aku ogah nyentuh TV lokal lagi) tapi baru hari ini dapet link yang lengkap dengan judul dan sinopsisnya. Udah bukan sedih lagi ngeliatnya, tapi bener-bener malu sama negara sendiri. Aku sama sekali nggak ngerti apa yang ada di pikiran orang-orang yang produksi dan maen di film itu. Kok artisnya juga mau sih mempermalukan diri sendiri habis-habisan sebagai penjiplak seperti itu? Apa mereka nggak punya harga diri? Apa mereka kira karena Avatar sukses besar, maka mereka tinggal bikin tiruan nggak berkelas dengan budget super kecil dan efek nggak mutu lalu otomatis mereka bisa meraup keuntungan besar instan juga?

Astaga, betapa sederhananya cara berpikir orang-orang di dunia perfilman kita. Aku jadi agak prihatin apa sebagian besar dari kita masih punya cara pikir yang terbelakang seperti itu. Bukannya terinspirasi untuk bikin sesuatu yang orisinil dan sama kerennya, mereka malah memilih jalan yang paling gampang: njiplak. Dan mereka bahkan nggak berusaha membuat jalan ceritanya beda sedikit pun! Semuanya persis sama, kecuali bagian manusia mengendalikan Avatar-nya, dan itu pun dijamin cuma karena mereka nggak mampu nampilin teknologi semacam itu. Sedih, sedih, dan malu sekali aku pada negaraku tercinta di saat-saat seperti ini... Memang bisnis jiplak-menjiplak ini udah ada sejak dulu, mulai dari jamannya Meteor Garden dan tiruannya yang aku judulnya udah lupa, pokoknya yang maen si Roger Danuarta itu... terus sinetron Violet yang ngejiplak W.I.T.C.H... sinetron Tergiur (judul macam apa itu?) yang katanya niru-niru Charmed... pokoknya trademark Indonesia adalah tukang ngejiplak deh... yang sangat sangat menyedihkan.

Yang lebih menggelikan lagi, sinopsisnya aja tata bahasanya jelek banget. Udah gitu ada dua tokoh yang namanya sama bersekongkol, nggak tau sengaja atau emang segitu nggak kreatifnya atau yang nulis entah kenapa bikin kesalahan yang sama berkali-kali. Serius deh, ini bikin kepercayaanku akan dunia perfilman kita hancur. Aku selalu bermimpi pengen jadi script writer suatu hari nanti, tapi kayanya jadi penulis skenario di Indonesia nggak susah-susah banget. Bisa nulis sinopsis yang bisa dimengerti aja udah hebat banget. Bukannya sombong, tapi kalo semua skenario film dan sinetron di negara ini kaya gini sih, aku bisa jadi terkenal dalam sekejap. Dan itulah sebabnya aku selama ini nggak membatasi mimpiku menjadi penulis skenario lokal aja. Jelas, jadi penulis skenario di sini nggak banyak artinya. Bagus juga aku selalu bermimpi jadi screenwriter yang diakui di Hollywood dan bisa memenangkan Oscar untuk naskahku suatu hari.

Kamu anggap impian itu terlalu tinggi? Well, kata orang, mereka yang berambisi setinggi mungkinlah yang lebih punya kemungkinan sukses. Dan aku jelas berharap bisa jadi penulis skenario yang punya integritas dan harga diri, yang hanya akan mendapat penghargaan atas karya-karya yang orisinil dan pantas dipuji. Para calon penulis skenario Indonesia lainnya, kuharap kalian punya pemikiran yang sama untuk menyelamatkan generasi kita dari reputasi memalukan ini.

Saturday, January 16, 2010

Quote of The Day

2
Atas petunjuk Mel, aku berhasil masukin Shoutbox kembali plus visitor counter. Hore!

Tidak ada hal menarik yang bisa diceritakan, kecuali kemaren merasa girang waktu akhirnya nemu Rubik's Cube 3x3 di toko [/nerdy moment]. Yep, selama ini aku belom pernah punya dan selalu pengen nyoba maen. Setelah sok nyari-nyari yang ukuran lebih gede tapi nggak ada, memutuskan untuk latihan pake 3x3 dulu. Sampai di rumah, semangat mengacak-acak susunannya. Setelah itu... garuk-garuk kepala karena ternyata ngembaliinnya lebih susah daripada yang dikira. Kata V, untuk solve Rubik's Cube ada rumus matematisnya. Gawat deh, otakku kan gak bisa dipake buat itung-itungan. Setelah itu kami berdua mengangguk-angguk mengerti kenapa Mel bisa menyelesaikan sampe yang 5x5: karena dia dulu anak IPA!

Soal quote of the day yang disinggung di judul... yap, hari ini tumben-tumbennya mamaku menunjukkan seberapa delusionalnya dia. Jadi kami sedang membicarakan ke mana adek sepupuku bakal kuliah nanti. Ini adalah adek dari sepupu satunya yang sudah duluan mengikuti jejakku kuliah di kampusku tercinta. Dan seperti yang pernah kusinggung sebelumnya, dia juga berniat masuk ke sana, atau ke luar negeri sekalian. Keluarga kami lagi heboh bergosip soal bagaimana mamanya pengen banget anaknya itu masuk universitas bergengsi padahal belom tentu bisa bayar. Katanya, kalo nggak bisa keluar negeri, minimal masuk kampusku tercinta. Lalu, terdengarlah quote yang nggak bisa dipercaya itu...

Mama: Ya iya, tapi kan [censored (nama universitasku tercinta)] itu kan number one di Indonesia!

Aku: *terkaget-kaget akan kenyataan bahwa mamaku ternyata juga sudah termakan iklan marketing kampus yang telah berhasil menipu banyak orang itu!*

Mungkinkah dia sudah membaca hasil survei palsu yang ada di suatu majalah tertentu yang punya relasi dengan kampusku tercinta itu?

Karena... kampusku? Nomor satu di Indonesia?

Um, no, Mom, it's just the most expensive.

Tuesday, January 12, 2010

How To Be An Active Blogger

3
*Nyolong siasat bikin judul menarik dari Mel biar muncul di search-nya Google*

Apakah Anda sudah menelantarkan blog Anda selama berbulan-bulan? Apakah dulu Anda seorang blogger yang rajin, tapi sekarang tiba-tiba melihat blog Anda membuat Anda ingin cepat-cepat kabur ke website lain? Apakah pemandangan blog yang sunyi senyap tidak dikunjungi orang cuma membuat Anda makin depresi? Lalu Anda berpikir... bagaimana caranya menjadi blogger yang aktif dan punya banyak pembaca lagi?? Padahal Anda tidak punya bahan menarik untuk ditulis!

Cara nomor satu paling ampuh untuk mengembalikan mood untuk update (saking mood-nya sampe yang nggak penting macemnya "tadi pagi gue bangun dan ngeliat ada tukang sayur di depan rumah" juga dijadiin bahan) adalah: GANTI LAYOUT ANDA!

Seperti yang bisa Anda sekalian lihat, saya sedang menerapkan nasehat saya sendiri! Untuk meningkatkan mood untuk update, saya telah mencari premade layout (karena males ngutak-ngatik HTML dan CSS satu-satu -> alasan seorang blogger pemalas) untuk blogger dan akhirnya menemukan layout yang imut-imut dan girly ini. Namanya "She's A Lady", dan sekarang tiba-tiba itu pun sudah menjadi nama baru blog ini, dari yang tadinya Double Sided Mirror jadi She's A Lady In Disguise. Bukannya berarti aku menyamar jadi cewek loh, tapi artinya aku ini menyamar menjadi berbagai hal (contoh: menyamar menjadi mahasiswa pintar dan rajin di kampus) setiap hari.

Cuma karena blogger ternyata udah lama meng-update format template-nya, dan aku baru sadar hari ini padahal kayanya itu update udah bertahun-tahun (ini format untuk posting-nya juga ternyata baru dan baru ku-update jadi ga usah capek-capek ngetik HTML untuk miringin kata atau bold lagi karena udah Rich Text), alhasil aku bingung sesaat oleh semua kecanggihan baru ini. Sampe-sampe di mana biasanya aku bisa ngedit sendiri CSS dari premade layout sesuai preferensiku, sekarang aku nggak berhasil memunculkan tanggal entry tanpa membuatnya keluar dengan font gede-gede mengganggu yang bikin layout-nya nggak imut lagi (default setting-nya emang hidden). Ugh, yang mengganggu sekali, karena dalam blog tanggal entry itu penting. Moga-moga ntar aku bisa utak-utik lagi deh. Nah, munculin tanggal aja nggak bisa, boro-boro ngembaliin shoutbox. Udah nggak berani nyentuh CSS versi barunya sama sekali deh. Ada yang mau bantuin? Sebenernya upgrade ini dalam beberapa hal mempermudah juga sih, hampir sama kaya Google Sites, tinggal geser sana geser sini sama input teks tanpa harus masukin kode-kode dari scratch lagi. Tapi kadang-kadang terlalu canggih bikin pusing juga.

Yah, mari berharap paling nggak ini bisa mengembalikan mood untuk update! Sejauh ini aku sudah berhasil menulis tiga entry berturut-turut sejak episode kembalinya sang blogger yang sangat dramatis!

P.S. Kalo mau comment klik gambar balon pink di kanan atas masing-masing entry. Maaf untuk ketiadaan shoutbox sementara yang mengganggu kenyamanan Anda.

Monday, January 11, 2010

One Small Step For A Girl...

4
Oke, Mel bakal senang melihat update dua entry sekaligus... tapi sepertinya aku lagi mood nge-blog malam ini. Biasa, kalo udah deket-deket semester baru mood swing sangat berperan dan bisa kadang-kadang (seringnya) depresi mendadak. Tapi ini bukan tentang depresi saya kok. Baru nyadar, di shoutbox ternyata ada komentar yang menarik... dari seorang Mina, yang kuharap nggak keberatan disinggung di sini, yang sampai ke sini dari blog Droo. Duh, jadi malu karena blog saya isinya hal-hal nggak penting begini! *ditimpuk massa*

Iya, intinya, entah kenapa aku jadi seneng banget ngeliat ada yang mencariku sampai ke sini karena baca buku terjemahanku. Nggak nyangka aja gitu, bisa punya penggemar *ditimpuk lagi karena terlalu narsis* Biarin! Biarkanlah aku merasa terkenal sejenak! Walaupun cuma numpang nama, karena pengarang aslinya adalah Ally Carter. Penerjemah adalah profesi yang sangat rendah hati. Kenapa? Karena walaupun seluruh isi tulisan kami dipublikasikan, nama kami tidak muncul di sampul buku sedikit pun. Hanya tercetak kecil-kecil di halaman pertama di dalam buku, di sebelah kiri, yang mana mungkin cuma sekitar 5% orang (hanya perkiraan kasar, aku belom betul-betul mengadakan survei loh) yang pernah melirik ke sana karena memang nggak ada hal penting di sana kecuali informasi lebih mendetail tentang buku tersebut yang hanya punya fungsi administratif.

Dan aku nggak keberatan, karena memang aku nggak pengen jadi terkenal sebagai penerjemah. Mimpiku adalah terkenal menjadi penulis suatu hari nanti, di mana namaku betul-betul tercantum sebagai pengarang asli buku itu, bukannya cuma seseorang yang melakukan alih bahasa dan nggak menyumbangkan idenya sedikit pun, dan nggak punya andil sedikit pun tentang bagus-jeleknya cerita itu. Hari ini pun iseng-iseng aku meng-Google judul-judul buku terjemahanku, dan menemukan bahwa bahkan di beberapa site yang menampilkan informasi mendetail buku selain judul dan pengarang, sampai ke nomor ISBN buku itu plus ukuran dalam centimeternya, nama si penerjemah atau alih bahasa tetap nggak terlihat di mana pun. Dengan cara yang sangat berlawanan, kami ini sangat penting (karena tanpa kami, buku itu nggak bakal pernah ada), dan juga sangat nggak penting. Nggak ada pembeli buku yang beli buku tergantung dari penerjemahnya. Nggak ada pembeli buku yang penasaran siapa yang sudah berjasa mengubah buku yang aslinya berbahasa Inggris itu ke bahasa Indonesia supaya mereka yang nggak bisa bahasa Inggris bisa menikmatinya juga.

Dan sekali lagi, aku nggak keberatan. Aku masih nggak mencari ketenaran. Suatu hari nanti, aku masih bermimpi menerbitkan buku karanganku sendiri.

.....
.....
.....

Tapi... tetep aja, begitu ketemu review yang menyebut namaku seperti ini, harus menahan diri nggak melompat-lompat girang kayak orang gila. *kabur*

Yah, inilah sedikit curahan hati seorang penerjemah.

P.S. Coba angkat tangan siapa yang belom pernah coba meng-Google diri sendiri?

Sunday, January 10, 2010

Cardiopulmonary Resuscitation

2
*sapu-sapu debu... usir-usir laba-laba... bersih-bersih blog*

Hmm.. masih ada juga ini blog. *ditimpuk massa*

Ahaha, yah, di sinilah saya... muncul kembali setelah akhirnya mengunjungi blog baru Mel itu. Awalnya aku cuma mau update untuk bilang, yep, aku membaca entry episode nyaris telat UAS CRM itu, yang kamu berharap aku gak lagi iseng-iseng blogwalking dan meninggalkan komentar aneh di situ. Dan memang aku nggak meninggalkan komentar aneh, karena itu entry udah lama banget, kamu juga mungkin nggak nyadar kalo aku ninggalin komentar (kecuali kamu dapet e-mail notification). Yang pasti, reaksiku terhadap entry tersebut adalah ketawa sepuas-puasnya. Aku nggak bisa membayangkan reaksi (mantan) dosen tercintamu kalo dia sampe baca entry itu (jadi tergoda untuk ngasih link-nya nih)... pasti dia geleng-geleng kepala sambil urut dada. Serius deh, kadang-kadang aku merasa... you're that girl who can get away with anything.

Supaya entry ini nggak jadi ajang ngirim surat pribadi buat Mel, mari kita membicarakan nasib blog ini. Oh ya, omong-omong, judul entry-nya bukan karena aku udah masuk sekolah kedokteran ataupun tiba-tiba kepengen jadi dokter. Itu kepanjangan dari CPR yang dicari dengan Google. Maksudnya, mau memberikan napas buatan buat blog yang udah lama banget dying ini. Lagian kata Mel sebagian besar pengunjungnya nyampe ke blog dia dari sini... seaneh apa pun pernyataan itu, aku ini teman yang baik dan (akhirnya) memutuskan untuk membantu sesama blogger (yang ternyata selama ini minta update dengan maksud terselubung!)

Tuh kan, jadi surat pribadi lagi. Iya, nasib blog. Ada seseorang yang penasaran ke mana aku menghilang, ke mana aku hijrah menulis blog karena aku cuma bilang "di tempat lain". Yah, sebetulnya tempat lain itu adalah LiveJournal, dan aku juga udah pernah ngasi URL-nya, tapi karena statusnya Friends Only, kalo kalian nggak punya account LJ juga, jadi nggak bisa baca. Entry-entry di sana beda sama di sini. Jauh lebih pribadi dan banyak omongan gak jelas dan gak penting tentang hal-hal sepele sehari-hari. Itulah sebabnya blog yang itu nggak public seperti ini. Anehnya, di sana aku malah nggak pernah menyinggung-nyinggung universitasku tercinta... (mungkin memang lebih enak menyindir sesuatu di tempat yang bisa dilihat publik yah?)

Omong-omong soal itu, resolusi tahun ini cuma satu: LULUS. Pokoknya lulus tahun ini atau nggak sama sekali. Aku udah capek sekolah, dan ini bener-bener tahun terakhir aku masih mau bersabar dateng ke kampus secara teratur. Setelah itu, goodbye selamanya, deh! Bener deh, aku yakin pas upacara kelulusan nanti, aku bakal nangis bahagia saking girangnya akhirnya bisa lepas dari situ. Ternyata masuknya gampang banget, keluarnya agak-agak susah...

P.S. Teman bloggerku yang setia, setuju banget sama entry kangen masa SMA. Itu betul-betul masa terindah dalam hidup. Memang waktu sekolah dulu hidup rasanya simple dan aman banget ya... *sniff*

Friday, July 24, 2009

Eurotrip!

1
SELAMAT HARI LIBUR!

Yah, sebenernya bentar lagi masuk sih, meskipun aku MASIH belum tau tepatnya kapan (halo, ada yang bisa bantuin?), tapi intinya, kemaren selama libur 2 bulan lebih ini, saya sempat berjalan-jalan ke negara tetangga. Itu... gak jauh-jauh kok, di Eropa sana *ditimpuk*

Kalo mau diceritain semuanya bisa capek. Jadi kuceritain hal-hal menariknya aja ya? Walaupun mungkin ujung-ujungnya cerita perjalanannya jadi sedikit, ehehe...

Keluargaku punya ritual setiap kali kami mau pergi, nggak peduli itu cuma keluar makan, ke luar kota, ataupun ke luar negeri. Prosedurnya begini: beberapa dari kami berkumpul di bawah, siap pergi. Menunggu satu atau dua orang sambil mengerjakan berbagai hal nggak jelas. Satu/dua orang muncul dan bersiap pergi. Yang lain menyelesaikan berbagai hal nggak jelas tadi dan akhirnya melangkah ke luar. Salah satu anggota yang tadi sudah siap tiba-tiba kebelet pipis jadi harus ke kamar mandi lagi. Setelah urusan ini beres, mulai berbondong-bondong keluar lagi. Sampai di garasi, salah satu dari kami bakalan menyadari kalo dompetnya ketinggalan dan masuk lagi. Setelah dia kembali, kami membuat progress sampai masuk mobil di mana paling tidak satu orang lainnya bakal ketinggalan HP dan/atau baru nyadar kalo sandalnya udah mangap dan nggak bisa dipake lagi. Kembalilah mereka ke rumah, dan begitu seterusnya.

Jadi untuk berangkat? Kira-kira membutuhkan paling nggak lima belas menit sebelum mobil bisa dengan sukses dijalankan dengan semua anggota keluarga lengkap di dalamnya.

Begitu juga dengan waktu pulang dari suatu tempat, tapi ini khusus untuk kunjungan ke anggota keluarga lainnya. Aku dan sepupuku biasa membuat kesepakatan berdasarkan observasi yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun:

- Panggilan pertama ("Ayo, ayo, pulang!") harus diabaikan karena itu berarti masih ada sekitar setengah jam lagi sebelum kami betul-betul pergi.
- Panggilan kedua ("Ayo dong, ditungguin, nih!") juga dicuekin saja karena itu berarti masih ada sekitar 15 menit lagi sebelum kami berangkat.
- Panggilan ketiga yang bersifat mengancam ("Kita TINGGAL loh!") sebaiknya dituruti dengan paling nggak menampakkan diri di dekat pintu keluar, walaupun masih ada sekitar 5-10 menit sisa waktu untuk berbasa-basi dan menyelesaikan pembicaraan nggak jelas.
- Panggilan terakhir, akhirnya, barulah merupakan ajakan pulang yang sebenarnya.

[/pelajaran mengenai rutinitas keluarga saya selesai]

Anehnya, kali ini kami sampai di bandara nggak telat sama sekali, malahan kecepetan. Keajaiban dunia sekali.

Oh ya, dalam perjalanan ini, kami semua juga memiliki role masing-masing:

1. Mama; seksi PANIK ("Kita TELAT LOH! CEPETAN!" "ADUH orang-orangnya udah pada ILANG nanti kita nyasar nggak tau jalan!" "Gak boleh begini-begitu nanti kalo kita DITANGKEP POLISI di luar negeri GIMANAH?!!!" "PASPOR KITA GAK ADA!!!!!!!") Intinya, dia seksi pemacu jantung deh. Dia juga seksi hiperbolis. Aku punya pattern untuk menginterpretasikan omongan Mama. Kalo dia bilang "SEMUA ORANG udah check in!" nggak perlu panik, kemungkinan besar dia ngawur adalah 80%. Kalo dia bilang "LIMA MENIT lagi harus berangkat!" kemungkinannya masih ada sekitar 15 menit lagi.

Kalo dia bilang "ITU ada mesin ATM!"? Kemungkinannya itu adalah mesin penjual makanan kaleng adalah... 100%. (Komentar Papa: "Wah, mesin ATM di luar negeri hebat yah! Lain banget ama yang di Indonesia!")

Oh ya, dia juga seksi pengambil foto. Demen banget ambil fotoku khususnya di mana-mana ("CEPETAN FOTO DI SITU!! DI SITU JUGA!!"), padahal, halo, aku SUDAH pernah ke Eropa, seharusnya dia memburu papaku dan kakakku.

Terakhir, dia seksi belanja tentunya. (Disimpulkan dengan sempurna oleh komentar Papa berikut ini: "Mama kalo ke objek wisata, langsung foto objeknya sekali dari jauh lalu cepet-cepet ngabisin sisa waktunya belanja suvenir." Aku mengangguk-angguk setuju akan kebijaksanaan pernyataan ini) Termasuk juga waktu di bandara, sementara aku dan Papa ngantuk setengah mati dan nyaris jatoh dari bangku gara-gara ketiduran, Mama sibuk ngoceh soal belanja oleh-oleh. Aku pun bertanya-tanya: "Dari mana sih dia mendapatkan energinya yang nggak abis-abis itu?"

2. Papa; seksi menenangkan Mama dan seksi menghindar difoto dan/atau menghalangi foto orang. Ujung-ujungnya kena omel Mama tercinta melulu. Papa yang malang. Seksi paling nggak bisa makan karena dia cinta makanan Indonesia dan ujung-ujungnya ngidam soto melulu. Seksi ahli bahasa Italia ("Let's go eat-O pizza-O! ConcertO ItalianO duO!" Yeah, aku juga nggak ngerti apa yang dibicarakannya... kelihatannya dia yakin apa pun+O = Bahasa Italia)

3. Kakakku; seksi difoto. Kayaknya 70% isi kamera kami foto dia semua. DAN dia bawa DUA kamera. Di setiap tempat bakal minta kami semua gantian fotoin dia dalam berbagai pose dan sudut pandang ("Tadi dari sebelah sini udah? Yang ngadep sini? Kalo gitu sekarang yang ngadep sebelah sana!") Pokoknya, empat penjuru harus dapet semua. Capek deh...

4. Aku; hmm... aku? Seksi menikmati pemandangan dan males difoto. Hahaha...

Yah, intinya sih... aku jenis orang yang lebih suka sightseeing daripada shopping. Waktu kami di Milan, sampai di suatu restoran untuk makan malam, ternyata restorannya masih belom buka gara-gara stafnya masih pada asyik main mahjong. Apa yang grup tur Indonesia ini lakukan? Ngungsi ke toko sebelah yang jualan tas dan...

Lima menit kemudian...

Ibu-ibu di sana pegang tas, mengomentari bagusnya model tas itu. Anak kecil dari keluarga ibu-dan-2-anak itu nyoba-nyoba tas koper yang katanya buat tas sekolahnya. Ibu-ibu modis yang selalu beli barang mahal memegang tas bermerk dan siap-siap menawar harganya. Bahkan si cowok tipe backpacker yang ikut tur sendirian pun sudah di kasir untuk membayar ransel barunya.

Jadi intinya, kami di Milan... restoran yang seharusnya kami kunjungi untuk makan malam belum buka... kami kebetulan, tanpa maksud apa-apa, hal ini nggak termasuk di dalam acara sama sekali, berjalan-jalan ke toko sebelah dan... begitu saja...

TIBA-TIBA SEMUA ORANG BUTUH TAS!

SUNGGUH AJAIB!

Aku, tentu saja, nggak beli apa-apa... tapi mimpi apa si pemilik toko tas itu yah, tiba-tiba tokonya diserbu 22 anggota tur Indonesia yang haus belanja begitu sampai di Milan dan memborong isi tokonya dalam sekejap hanya gara-gara RESTORAN DI SEBELAH BELOM BUKA? Dia betul-betul harus ke sebelah dan menyuruh staf restoran itu lebih sering main mahjong lagi.

Monday, May 04, 2009

One Last Tribute to Mr. Popcorn

1
Judul yang aneh. Hmm.. Kenapa popcorn? Karena garing.

Cerita ini lagi-lagi cerita lama yang gagal terus di-posting karena internet mati melulu, dan giliran udah nyala aku sibuk browsing ke tempat laen dan lupa post. Atau nggak aku lagi nggak mood. Akhirnya sekarang sudah memaksa diri untuk mem-posting cerita ga jelas ini...

Mengenai seorang dosen yang syukur-syukur nggak bakal kutemui lagi (doakan saya lulus UAS yah!)... Yang udah cukup deh kutemui setiap minggu selama 2 semester...

Kita sebut saja dia Mr. Popcorn. Mr. Popcorn lagi-lagi mengatakan hal-hal yang menyebalkan dan patut masuk blog, jadi inilah cerita lengkapnya...

Di suatu hari, adalah kelas pengganti menyebalkan yang kuikuti dengan rajinnya sementara Mel bolos seperti biasa. Seperti biasa pula kalo Mel gak ada, terjadi hal-hal menarik di kelas Mr. Popcorn yang patut dimasukin blog.

Mr. Popcorn: Untuk mencapai word of mouth, harus nyari seorang talker. Dia ini gak bisa orang yang pendiem, harus yang cerewet...
Aku: *merasa tersindir*
Mr. Popcorn: Kalo tipe-tipe murid yang datengnya telat... duduk di belakang... diem aja... keluar duluan... itu jelas gak bisa jadi talkers.
Aku: *merasa tersindir BANGET* Apa-apaan nih dosen?
Mr. Popcorn: Bukannya nyindir lho ya, cuma contoh...
Aku: Yeah, right.

Mr. Popcorn: Logo Lovers artinya orang yang bisa nunjukin logo suatu produk di muka umum untuk mengiklankannya. Kalo untuk kampus kita (seperti biasa, dia selalu menyebut-nyebut kampus kita. Aku sudah lama curiga kalo dia staf-marketing-kampus-garis-miring-sales-kartu-kredit-yang-menyamar-jadi dosen) mungkin... ada nggak ya yang mau make tato logo kampus?
Aku: ..........

Sampe mati pun aku gak mau deh.

Mr. Popcorn: Tapi untuk mengiklankan sesuatu, orangnya harus suka produk itu. Jadi misalnya kalo di kampus kita, mahasiswa yang udah kecewa sama kampus nggak bisa jadi talkers.
Aku: *merasa tersindir lagi, tapi... BETUL BANGET!!*
Mr. Popcorn: *ngomongin sesuatu yang aku dah ga inget, kucatet sih tapi aku ga ngerti apa hubungannya ini ama iPod Touch meskipun ada tanda panahnya... inilah hasilnya kalo nunggu kelamaan sebelum mendokumentasikan sesuatu* ...jadinya ntar disebut local campus kali ya, bukan global campus...
Aku: *merasa terheran-heran karena tumben dia nyela kampus kami tercinta*

Hmm.. cuma itu sih yang kuinget. Gak semenarik waktu aku ada di sana, yah? Barangkali karena udah banyak yang kelupaan. Ahahaha.. tapi intinya kuliah hari itu aku merasa tersindir banget deh. All the more reason never to see Mr. Popcorn ever again!

Wednesday, April 15, 2009

Snippets of My Boring Life - Part II

2
Kayanya aku udah semangat mengabarkan adanya update tapi ga ada yang tertarik.. hiks hiks. Kok pada pergi lagi sih?? *seret Mel & Droo* Kalian kan dua orang pembaca paling setia satu-satunya blogku! Kalo kalian pergi, blog ini bakal bener-bener kaya padang gurun dengan angin bertiup menerbangkan dedaunan... tanpa kehidupan sama sekali! *dramatic mode: ON*

Ya udah ni dilanjutin ceritanya. Sampe mana yah kemaren? Oya, deskripsi SMU kami tercinta (kalau yang ini dimaksudkan secara harfiah, bukan dengan nada sinis seperti kalo aku bilang "kampus kami tercinta"). Setelah masuk, kami langsung menemukan gerombolan teman-teman yang satu kelas dengan kami waktu kelas 3 dulu. Tama langsung jadi inceran cowok-cowok buat dikerjain seperti biasanya, mengingat dia dulu ketua kelas gak resmi merangkap sekretaris merangkap bendahara merangkap maskot kelas. Pokoknya semua urusan kelas dia yang urus deh. Jadi intinya mereka semua langsung nodong dia dengan gaya preman mau ngeroyok anak tak berdosa:

Tersangka #1: Eh, eh, ada si Tama nih, sini sini cepet kita kerjain! *mendorong Tama ke arah pemimpin/bos para calon preman ini*
Tersangka #2: Tama, dulu gue udah bayar uang kas kelas buat sebulan terus UANG GUE DIKEMANAIN HAH?
Tersangka #3: Tama, sini BELIIN GUE MINUM!

Ya dan singkat cerita, Tama stres seketika. Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang kami, teman-teman terdekatnya lakukan di saat seperti ini?

Aku: *menepuk pundak Tama* Selamat! Perjalanan kita kembali ke masa SMU sudah resmi lengkap sekarang! Beberapa hal memang gak pernah berubah, ya! *nada ceria penuh kegembiraan*
Tama: ..............

Tama itu maskot yang paling disayangi seisi kelas, kok. Walaupun semua anak suka ngerjain dia, itu dilakukan murni dengan penuh cinta. Ah, hari-hari SMU yang indah! *Tama menangis di pojokan*

Pertemuan berikutnya adalah dengan guru-guru. Dan di sinilah cerita kita yang sebenarnya akhirnya dimulai!! *suara terompet membahana*

Ya jadi ceritanya Miss V kita ini sangat sensitif soal berat badannya. Bukan karena dia gemuk, tapi justru karena dia sangat kurus!! Dan semua orang yang ketemu dia pasti bilang dia kurus banget. Dan dia sudah berusaha makan sebanyak-banyaknya (yang menurutku cara yang agak mengkhawatirkan untuk menggemukkan diri) buat bikin gemuk tapi sampe sekarang ga ada hasilnya. Kalo tanya aku sih, sebaiknya dia menyerah saja karena emang metabolismenya terlalu bagus. *giliran V menangis di pojokan*

Kembali ke pertemuan kami dengan guru-guru lama kami tercinta (beberapa dimaksudkan secara harfiah, beberapa... dengan tidak begitu tulus)

Mantan Kepsek SMU kami: Eh, halo semuanya... *cipika-cipiki* Aduh, V, kamu TAMBAH KURUS AJA!
V: ......
Aku: ^^; Sabar ya...

Lima menit kemudian kami berjalan-jalan ke lantai dua dan menemukan gerombolan guru lain.

Mantan Guru Ekonomi kami: Halo semuanya... aduh udah lama ya, waduh, V, kamu KURUS BANGET SIH?
V: ....
Aku: ^^;;;;
Mantan Guru Kimia kami: Ini si *menyebutkan nama kami satu-per satu dengan hebatnya masih inget* kan? Dan ini, V, ya ampun kamu MASIH KURUS BANGET!
V: ...............
Aku: ^^;;;;;;;;;;;;

Setelah berkeliling mengintip tiap kelas dan mencoba mengidentifikasi tiap guru yang ada di sana (dalam beberapa kasus dengan sangat tidak sukses), beberapa dialog yang terjadi misalnya:

Tama: Itu siapa ya?
V: Guru... bahasa Indonesia kan?
Aku: Bukannya Bahasa Inggris?
Tama: Aduh... inget sih mukanya tapi masa sih? Kayanya bukan deh...
V: Miss A bukan?
Aku: Iya kali?
Tama: Bukaaan! Ini kayanya lain lagi deh!

Akhirnya kami tetap tidak tahu siapa guru misterius itu sampe sekarang. Lalu...

V: Itu Pak J, kan?
Aku: *otomatis terbayang Pak J yang di kampus* Er... *bengong sejenak, memutar memori sampai mendapatkan imej yang tepat* .....

Lima menit kemudian...
Aku: Oh, iya, yang itu! *menengok kanan-kiri, yang laen udah ngilang* Siyal, aku ditinggal.

Tama: Itu guru apa yah... IPA...
V: Fisika, kan?
Aku: Iya, iya, bener!
Tama: Namanya, duh...
V: *menyebutkan satu nama yang nggak familiar*
Aku: Iya ya?
Tama: Kayanya ga ada guru bernama kaya gitu deh... -__-;

Dan akhirnya...

Mantan Pengurus TU Kami: Halo, ini K kan? *menyensor nama sendiri*
Aku: Iya.. *seneng karena diinget*

Setelah kami berlalu...

Aku: Ngomong-ngomong, tadi siapa ya?

Aku jadi nggak enak, gara-gara gak inget! Beneran, deh! Padahal dia inget aku! Tapi ternyata dia adalah pengurus TU dan kayanya inget aku gara-gara aku sering nemenin Tama beli kertas ulangan buat anak-anak sekelas (ingat, dia adalah ketua kelas gak resmi merangkap sekretaris merangkap bendahara merangkap maskot kelas).

Anehnya, nggak satu pun dari kami berhasil mengingat siapa Kepsek SMP kami. Padahal orangnya baik banget loh. Ibu yang malang itu baru ketahuan identitasnya beberapa minggu lalu waktu aku SMS V lagi karena masih penasaran oleh misteri yang tidak terjawab ini, dan dia akhirnya mendapatkan jawabannya setelah mencari di BUKU TELPON. Agak malang memang nasib ibu ini.

Ah, sekolahku tercinta! I miss you so much!

Dan akhirnya, setelah foto-foto ama artis (baca: mantan teman seangkatan kami yang udah jadi artis), lengkap ama guru-guru kami tercinta dulu, kami pun pulang. Ngomong-ngomong soal artis, ternyata dia kuliah di kampusku tercinta juga? (Bukan, bukan kembaran yang itu. Yang satunya!) Hal ini baru terungkap waktu dia bertanya padaku:

Mr. Aktor Terkenal: Lo kuliah di mana?
Aku: *menyebutkan nama kampusku tercinta*
Mr. Aktor Terkenal: Loh, sama dong? Lo jurusan apa?
Aku: Komunikasi.
Mr. Aktor Terkenal: Loh, gue juga! Kok gak pernah ketemu??
Aku: ???

Setauku dia dulu gak kuliah di situ deh. Mel, apa kamu denger gosip dari Valen soal pindahnya Mr. Aktor Terkenal ke jurusan kita? Soalnya aku beneran ga pernah liat dia. Dan omong-omong, aku juga *masih* belum bisa membedakan dia dan kembarannya. (Semua orang: Nggak usah nampakin ekspresi shock yang selalu kalian tunjukkan setiap kali aku bilang ini lagi, deh! Kan udah kubilang aku gak pernah/jarang sekelas ama mereka dan gak pernah punya kesempatan ngebandingin mereka, huh! Aku bisa kok ngebedain anak kembar, dibuktikan dengan kemampuanku membedakan si kembar pinter temen kita anak IPA dulu itu, karena aku pernah sekelas ama dua-duanya secara terpisah dan kalo itu memang keliatan bener bedanya. Kayanya aku perlu kursus ngebedain Mr. Aktor Terkenal dan kembarannya nih) Itulah sebabnya waktu dia bilang dia kuliah di kampusku pertama kupikir dia kembaran satunya (yang memang sudah lama kuliah di sana). Sampe pulang baru aku nyadar kalo dia bukan. *sigh* Memang membingungkan. Jadi sekarang dua-duanya kuliah di sana, dong? Hmm. Ada yang mau minta tanda tangan?

Tuh kan, entrinya panjang abis. Coba kalo gak dibuat bersambung?

Intinya, setelah itu kami pulang. Tapi tidak sebelum mengucapkan selamat tinggal pada guru-guru kami tercinta. Dan tentunya ada pesan terakhir dari:

Mantan Kepsek SMU kami: V, kamu banyak-banyak minum susu yah! Biar nggak TERLALU KURUS!

Tabah ya, V!

Tuesday, April 07, 2009

Snippets of My Boring Life - Part I

2
Er... Halo. *melambai dengan malu-malu*

Setelah membaca-baca ulang beberapa entry lama untuk mencari tahu kenapa seorang temen yang baru membaca blog ini bilang cara nulisku beda banget sama di kehidupan nyata, aku jadi kangen sama blog ini. Dan jadi tergoda untuk update lagi. Padahal kupikir udah nggak bakal ada niat macam itu muncul... tapi inspirasi tiba-tiba datang, lebih sebagai tantangan untuk menulis dengan gaya sinis ala Princess Diaries lagi dan membuat kejadian-kejadian biasa jadi lebih lucu daripada kelihatannya. Lagi pula, akhir-akhir ini ada beberapa kejadian lucu yang kayanya sayang untuk nggak didokumentasikan. Jadinya...

Setelah berhari-hari berjalan keliling dengan ide meng-update blog ini dan masih merasa takut karena sudah lama nggak nulis dengan gaya begini.. akhirnya hari ini karena betul-betul nggak ada kerjaan (sialan, Pet Society sama Restaurant City dua-duanya lagi down... btw, main Restaurant City dong!! Klik di link-nya untuk sign up segera! Dijamin Anda akan langsung ketagihan! *dilempar bata gara-gara malah promosi*)

Plus, aku baru selesai baca buku Princess Diaries terakhir. (Btw, Droo, judulnya Forever Princess. Apa cuma aku yang berpikir Meg Cabot nyolong judul episode terakhir Charmed; Forever Charmed? Karena dia kan sering nyebut-nyebut Charmed di buku-bukunya) Dan aku jadi cukup percaya diri karena biasanya kalo abis baca buku tertentu terus nulis sesuatu, gaya nulisku jadi terpengaruh sama buku yang baru kubaca itu.

Jadilah aku duduk di sini...

...masuk ke blogger.com dengan deg-degan...

bersiap nge-post setelah empat bulan tanpa kabar...

...hmm...

*ditimpuk pembaca karena terlalu bertele-tele kaya sinetron Tersanjung 9 - atau sekarang sudah sampai 23?*

Yah, ini cerita hari Jumat kemaren. Sebenernya tokoh utama cerita ini adalah temenku yang disebut di atas, yang baru baca blog ini. Tenang, aku sudah meminta ijin untuk memasukkannya ke sini dan sudah diijinkan memakai inisialnya. (Pembaca lain protes: "Kok kalo sama kita ga minta izin, main nyebut-nyebut nama aja?" Jawab: Ya gimana ya... soalnya ini masalah yang agak sensitif buat temenku itu. Jadi demi sopan-santun harus minta ijin dulu. Lagian dia kan bukan sesama blogger. Kalo sesama blogger sih, sembarangan sebut-sebut juga ga papa kan, asal di-hyperlink ke blog kalian? *evil laugh* Sudahlah, akui saja. Kalian semua kan doyan promosi/iklan.)

Belom mulai-mulai juga ceritanya, ya? Duh, entrinya dah kepanjangan. Entri berikutnya aja apa ya? Ini jadi teaser atau semacam kata pengantar gitu... *dilemparin bata*

Ya udah. Sekarang deh. Jadi ceritanya kemaren aku dan teman-temanku main-main ke SMU lama kami yang untuk pertama kalinya dalam sejarah mengadakan pensi. (Sekalian ngambil raport. Di sore-malam hari. Jangan tanya aku siapa yang punya ide aneh itu...) Waktu nyampe di sana, kami semua terbengong-bengong melihat gedung yang sudah sangat berubah drastis sekali itu (perhatikan penggunaan berbagai kata superlatif(?) yang sangat hiperbolis dan ya, perlu untuk menekankan poin saya).

Aku: Kok udah berubah banget, sih? Aku gak kenal tempat ini lagi!
N (salah satu teman yang juga dilindungi identitasnya - duh kok serasa lagi jadi jurnalis yang memberitakan artikel kriminal aja ya? "Nona N [bukan nama sebenarnya] kemarin ditemukan sebagai tersangka pembunuh dosennya karena terlalu stres akibat tugas akhir yang sedang dikerjakannya" -> bukannya nggak mungkin terjadi sih mengingat kadar stress N belakangan ini gara-gara skripsinya. Astaga. Aku ini punya short attention span banget sih): Iya. Ini kita DI MANA sih??

Kami pun melangkah masuk dengan PD ke dalem, dan menemukan lebih banyak perubahan-perubahan lagi. Lantai yang semula pake ubin berkotak-kotak biasa sekarang pake linoleum (? maaf penulis bukan ahli dalam bidang perubinan), tembok-tembok bercat warna terang nan ceria, pintu-pintu yang dulu reyot dari kayu dan suka gak bisa dibuka kalo gagangnya copot (ya iyalah) dan bikin orang gak sengaja kekurung di kelas atau di ruang komputer sekarang pake pintu nan chic yang bahannya lebih bagus dan modelnya minimalis (ada yang warna lime green - warna kesukaanku! - btw) plus ada pula yang pake pintu kaca bak di mall segala. Modern banget deh.

Sekarang juga ada locker di tiap kelas (iri banget deh. Dulu kami harus membawa-bawa tas SUPER BERAT setiap hari, tau sendiri kan anak SMA bukunya banyak banget [buku cetak+buku PS+catetan+buku PR, belom lagi kalo ada LKS dan segala macemnya], sebelum kami punya meja berlaci di SMA dan memutuskan dengan pintarnya untuk memindahkan semua buku kami ke sana dan akhirnya setiap hari nyaris ga perlu bawa apa-apa ke sekolah), walaupun di sampingnya masih ada rak buat naro botol minum [khusus bagian SD(?)] yang menimbulkan nostalgia... terus sistemnya juga udah berubah.

Gak ada lagi stay di satu kelas sepanjang tahun, sekarang modelnya internasional jadi tiap pelajaran pindah kelas. Duh, gak enak banget... gak ada lagi dong kelas-kelas yang kompak dan asyik kaya jamanku dulu. Kalo kuliah pindah-pindah kelas sih gak papa, tapi kalo sekolah... dulu aku selalu benci sistem itu terutama kalo pisah kelas sama temen-temenku (yang kayanya selalu terjadi padaku) tapi setelah kupikir-pikir lagi, sistem itu bener-bener khas sekolah banget dan sayang kalo ditinggalin. Gara-gara itulah kelasku jadi kompak banget dan sampe sekarang pun masih terus contact anak-anaknya...

Tama si kucing petualang si calon koki hebat (juga bukan nama sebenarnya. Nama panggilan ini muncul gara-gara pada jaman dahulu namanya ditulis salah cetak di koran sekolah kami. Kami semua menganggapnya lucu sekali [kecuali dia, tentunya]. Jadi kalo sampe sekarang dia masih dipanggil begini, ini semua salah si penulis artikel) cukup histeris waktu ngeliat ruang PKK kami yang dulu basically cuma satu ruang kelas plus meja-kursi plus kompor dan tempat cuci sekarang berubah high-tech dengan alat-alat stainless steel yang kita bahkan gak tau namanya (oke, mungkin si Tama tahu, tapi kami yang dulu-PKK-cuma-main-masak-masakan-dan-bukan-masak-beneran-plus-cuma-milih-tuh-pelajaran-gara-gara-pilihan-satunya-Elektro-dan-daripada-kesetrum [mengingat kemampuan praktek fisika kami yang sangat diragukan]-mendingan-main-masak-masakan-kan?-plus-abis-itu-bisa-makan-enak-pula-DAN-halo-cowok-yang-kusukai-waktu-itu-juga-pilih-itu [don't judge!] sama sekali gak tau)

Lantai duanya lebar abis, bisa buat lari-larian plus main bola. V (tokoh utama kita!) juga bilang anak-anak cowok di kelas kami yang norak (diucapkan dengan nada penuh sayang, tentunya) itu pasti bakal langsung pake itu buat main bola kalo kami masih sekolah di sana.

... Masih belum nyampe inti ceritanya juga. Udah capek belum? Aku udah. Nyambung entri berikutnya ah. Sekali-kali bikin cerita bersambung biar misterius... *evil laugh*

...
Padahal sih aslinya males. Dan aku juga agak gak suka entri yang terlalu panjang, bikin scroll-nya gak kira-kira. Iya, aku kan perfeksionis.

Jadi: TO BE CONTINUED!

*ditimpukin segala macem benda dari berbagai arah*

Maaf ya, saya kan baru belajar nulis blog lagi! Mohon dimaklumi! Janji deh entri berikutnya akan di-post sebelum akhir abad ini.

*dibunuh*

Saturday, November 08, 2008

Just Another Family Dinner 2: A Sequel

0
Cerita lama sih... tapi si Droo ngotot nyuruh update, ya sudah ^^ Kenapa ya kalo update blog ini rasanya jadi males?

...krik, krik.

Ya iyalah.. gak ada yang baca gitu -__-; Well, kecuali satu-dua orang. Dan aku merasa di blog ini aku harus menulis kejadian yang lucu-lucu dan menghibur, gak bisa curhat soal hal-hal yang terlalu depresif gara-gara blog ini bisa diakses praktis siapa saja... sama sekali tidak aman untuk membeberkan rahasia terdalam hati seorang agen rahasia!

*angin berhembus*

Mm.. iya. Poinnya adalah: cerita tentang makan malam keluarga lainnya. Cerita favorit pembaca sekalian di mana pasti terjadi kejadian-kejadian menarik. Terutama kalo ceritanya featuring... ya, siapa lagi, Tante Jambu-Bol-Garis-Miring-Penyelundup-Botol-Equil favorit kita semua! Masih ingatkah kalian akan dia? Dia sudah muncul di dua cerita sebelumnya, yang pertama cerita Natal yang kalo nggak salah di blogku yang dulu, dan yang kedua cerita makan malam keluarga yang kayaknya ada di entry awal-awal blog ini (males banget nge-linknya).

Sebetulnya cerita kali ini nggak selucu yang sudah-sudah. Maklumlah, sekuel. Tahu kan gimana sekuel jarang bisa menandingi cerita aslinya.

Duh. Garing banget nih rasanya. Udah lama gak nulis dengan gaya seperti ini -_-;

Omong-omong, si Tante kemaren baru dateng ke rumah. Aku jadi merasa bersalah nih. Tulis nggak ya? *digaplok pembaca yang udah gak sabaran*

Ya udah, tulis deh. Kita buka saja aib keluarga ini...

Jadi ceritanya ini makan malam ulangtahun kakak dan omaku yang kebetulan tanggalnya bersamaan, dan dirayakan dengan makan-makan di Sushi Tei! Kenapa Sushi Tei? Karena mamaku nanya padaKU mau makan di mana. Ya, aku.

Mama: Enaknya makan di mana?
Aku: *memandang mama beberapa saat, mencoba mengira-ngira apa dia salah mengira aku sebagai kakakku. Rasanya nggak mungkin, soalnya 1) dia cowok dan 2) beda banget gitu loh. Tapi kalo nyebut nama emang sering salah. Seringnya tiga-tiganya disebut dan yang bener munculnya paling belakang. Mungkinkah ini gejala kepikunan yang mencapai tingkat berikutnya?*
Aku: Aku yang nentuin?
Mama: Iya.

Yang punya hajat siapa, sih?? Ya udah deh. Emang gue pikirin. Malah kesempatan bagus untuk memilih restoran favorit~

Aku: *dengan yakin dan tegas* SUSHI TEI!
Mama: Oke deh.

Hore! Kita makan sushi! Untuk suatu alasan yang tidak bisa dijelaskan, mengingat ini bahkan bukan ulangtahunku!

Sampai di sana, semua orang sibuk pesen sana-sini. Kecuali beberapa orang seperti papaku yang nggak begitu suka masakan Jepang, semua orang keliatan kayak belom makan seminggu, terutama yang cowok-cowok. Aku tentu saja memesan menu-menu favoritku dengan senang hati juga.

Papa: Duh, nggak ada yang enak ini...
Mama: Abis dia maunya makan di sini... *melirikku*
Aku yang inosen dan tak berdosa: *melotot* LOH??

Kok sekarang aku disalahin?? -___-; Jelas-jelas tadi memang aku yang disuruh milih. Udah tahu juga aku paling suka sushi. Dasar ibu-ibu >___>

Yah, akhirnya aku tidak mempedulikan tudingan tidak beralasan itu dan meneruskan makan. Lalu sampai waktunya pesan dessert! Sepupuku pesen entah apa dan aku pesen es krim wafer nikmat. Waktu pesenanku dateng, Tanteku yang terkenal itu tentu saja memberikan komentar kagum random-nya yang biasa:

Tanteku: Liat tuh, (ngomong ke sepupuku) pesenannya lebih lucu! *menunjuk pesenanku*
Aku: ....

Gak apa-apa. Sudah biasa kok. Serius ini dialog nggak dibuat-buat loh, btw. Orisinil. Aku juga nggak ngerti bagaimana dia bisa selalu melihat sisi yang nggak dilihat orang lain. Misalnya gimana dessert-ku terlihat lebih LUCU daripada punya sepupuku, dan dia mengatakannya seolah-olah sepupuku harusnya jealous atau berusaha memesan sesuatu yang lebih lucu lagi (oh ya, ini sepupuku yang sering "bersaing" denganku itu, pernah kuceritakan di entry lain juga, mungkin di blog lama. Setelah kakaknya mengikuti "jejakku" masuk kampus yang sama denganku, surprise surprise... dia memutuskan untuk masuk ke sana juga! Aku betul-betul memutar bola mataku waktu mamaku ngasih tahu berita ini. Ada apa sih dengan keluarga ini?? Dan dia juga meminta nasehatKU soal kuliah! Aku yang bukan cuma salah masuk jurusan tapi juga salah milih kampus!! Kalau dia betul-betul mau minta nasehatku, bakal kusuruh dia jauh-jauh dari kampusku, tapi kayaknya dia nggak bakal menganggapnya niat baik dan mengira itu undangan bersaing lainnya lalu malah masuk sana. Sigh... some families are just that dysfunctional.)

Kembali ke Tante kita yang spotlight-nya sempat teralihkan sesaat. Kalian tahu kan tempat... er.. jahe(?) di Sushi Tei yang ada penjepitnya buat ngambil, karena bentuknya lembaran? Well.. aku melihat Tanteku mengamatinya, lalu mengatakan kalimat terkenal itu:

Tanteku: Penjepitnya lucu ya.

Deja vu!! Deja vu Botol-Equil-ijo-ijo-bagus-itu!!

Aku yang mulai menyadari tendensi kleptomaniak ini mulai mengamati gerak-gerik tanteku dengan curiga. Dan benar saja!! Di akhir makan malam, dia mengeluarkan penjepit itu dari tempat jahe, membungkusnya dengan tissue, dan menyelundupkannya ke tasnya!!!! ARGGH, aku punya Tante Kleptomaniak Penjepit Jahe!! (Atau lebih tepatnya, Tante Kleptomaniak Benda-Benda Lucu di Restoran)

Aku cuma mengamatinya sambil melotot nggak percaya. Dan kali ini nggak ada seorang pun yang mencegahnya karena... nggak tahu deh. Mungkin karena penjepit itu nggak segede botol Equil. Tapi.. staf Sushi Tei yang malang!! Mereka nggak bakal menemukan penjepit jahe yang hilang secara misterius itu selamanya!! Aku sudah bisa membayangkan headline di koran-koran, "Penjepit Jahe Hilang Secara Misterius dari Restoran Sushi Tei, Pondok Indah". Hmm... mengingat kami reserve meja, mereka bakal tahu nama orang terakhir yang makan di meja itu sebelum si penjepit jahe menghilang. Dan.. nama kami akan tercemar selamanya. Lalu bagaimana kalau kami di-black list dari semua Sushi Tei gara-gara tanteku?? Tidakkk... Sushi Tei restoran favoritku!!

Omong-omong, dia juga membawa pulang tempat dessert sepupuku setelah isinya dihabiskan. Kurasa walaupun secara keseluruhan es krimku lebih lucu, sepupuku tetap menang karena dia punya mangkuk lucu sebagai tempatnya dan aku cuma punya piring biasa.

Argh. Aku betul-betul nggak kepingin melihat adanya Just Another Family Dinner 3.

Edited later

OMG. O.M.G.

Aku baru saja melihat kembali entry Botol Equil untuk membandingkan kedua kasus dan tahu apa paragraf pembukanya?

Adalah sebuah cerita tentang keluarga yang ingin mengadakan acara makan malam kecil-kecilan untuk merayakan ulangtahun kakakku dan omaku yang tanggalnya persis sama...

!!!!

KEDUANYA SAMA-SAMA MAKAN MALAM MERAYAKAN ULANGTAHUN MEREKA!!

Apakah ini artinya setiap tahun, saat kami merayakan ulangtahun kakak dan omaku, tanteku bakal menyelundupkan sesuatu dari restoran? Apakah ini pola behavior kleptomaniak tersebut? Apakah para petugas yang menginvestigasi bisa langsung melihat kesamaan ini dan menangkap kami pada family dinner berikutnya??

So much for hoping there won't be another sequel.