Wednesday, June 19, 2013

Terinspirasi...

4
Setiap kali aku kembali mengunjungi Superbyq, aku jadi terinspirasi untuk nulis di sini lagi... Sayangnya, aku selalu lupa untuk berkunjung ke sana lebih sering *ditimpuk*

Rasanya aneh nulis pake bahasa Indonesia lagi. Setelah beberapa tahun terakhir aku mulai berpikir dan bermimpi dengan bahasa Inggris, dan setahun terakhir betul-betul tinggal di negara berbahasa Inggris, rasanya aku makin kehilangan bahasa ibuku aja. Sempet berpikir untuk nulis ini dengan bahasa Inggris juga, tapi... blog ini udah konsisten ditulis dengan bahasa Indonesia, dan ini mungkin berguna sebagai tantangan untuk kembali mengenali bahasaku sendiri.

Mikirin soal Byq dan pertemanan lagi, aku jadi kepikiran satu hal yang pernah aku singgung ke dia beberapa waktu lalu. Aku bukan orang yang punya banyak temen. Temen sungguhanku bisa diitung dengan jari, dan sahabat aku cuma punya tiga. Walau begitu, aku punya jenis temen yang berbeda-beda. Dan rasanya, mereka kenal aku dengan cara yang berbeda-beda pula.

Sahabat-sahabatku kenal sisi terbaikku. Mereka sudah kenal aku sejak SMA, tapi masih banyak hal-hal tentang aku yang nggak kuceritakan pada mereka. Banyak 'rahasia' yang kusimpan dari mereka, banyak pikiran-pikiran yang nggak kubagi. Byq kenal sisi 'kurang sempurna'ku. Dia kenal bagian dari diriku yang bitter, terutama di masa-masa kita kuliah. Dan bagaimana aku bukan calon ibu yang baik dan nggak sesabar yang sahabat-sahabatku mungkin kira. Ada alasan kenapa orang-orang tertentu mengenal sisi-sisi yang berbeda. Karena nggak semua dari mereka bakalan mengerti sisi-sisi tersebut. Sahabat-sahabatku, misalnya, nggak akan ngerti kalo aku komplain soal universitas tercintaku. Mereka nggak akan ngerti kalo aku betul-betul pengen ngebom tempat itu. Dan mereka nggak akan ngerti bagaimana lima tahunku di sana penuh kesengsaraan. Byq mengerti, dan bukan hanya karena kami melaluinya bersama-sama.

Apakah kita berbagi hal-hal tertentu dengan orang-orang tertentu tergantung dengan hubungan kita dengan mereka? Absolutely. Aku merasa nyaman mengumbar semua sisi kurang menarikku di depan Byq karena aku tahu: she won't judge me. Ironis karena sahabat justru orang yang seharusnya punya definisi itu, tapi... kenyataannya aku nggak merasa nyaman membagi beberapa fakta tentang diriku dengan mereka yang kupanggil sahabat. Bukan salah mereka, sih. Some judgments we make subconsciously. Without even meaning it.

Teman-temanku yang aku kenal dari dunia online mengetahui sisiku yang lain lagi. Mereka mengenal sisi penulisku, mereka tahu betul gaya menulisku, tipe jalan cerita favoritku, tipe-tipe karakterku, nama-nama karakter favoritku. Obsesi-obsesiku terhadap karakter-karakter fiksi di media. Mereka mengenalku sebagai orang yang sangat berbeda dengan yang dikenal keluarga dan teman-temanku. Mereka juga melihat sisi-sisiku yang jarang atau bahkan nggak pernah diperlihatkan ke orang lain. Hal-hal yang kutulis yang mungkin shocking buat orang-orang lain dalam hidupku. (Percaya deh, nggak semua tulisanku bisa kuperlihatkan ke orang-orang di sekitarku). Dan dengan cara yang sama, I'm never afraid that they will judge me or my writing.

Punya jenis-jenis temen yang berbeda itu mengagumkan. Karena setiap orang punya sisi yang berbeda-beda walaupun tanpa multiple personality disorder. Rasanya aku nggak punya satu orang dalam hidupku yang kenal semua sisi diriku. Mungkin itu sebabnya aku belum menemukan Mr. Right... Karena aku masih belum merasa nyaman betul-betul jadi diriku sendiri sepenuhnya dengan siapa pun.

P.S. Abis baca-baca entry lama, jadi inget persaingan 'sehat'ku dengan sepupuku yang akhirnya juga masuk universitasku tercinta. Mau tahu update terakhir dari persaingan kami? Tahun ini dia juga sekolah di UK, tepatnya di Newcastle. Hebat kan?

Thursday, November 10, 2011

Tentang Pertemanan

7
Hari ini entah kenapa tiba-tiba rindu mengecek blog ini. Tepatnya beberapa hari lalu sih, untuk tujuan yang aku udah lupa, aku perlu ngecek blog ini. (Oh iya, buat ngecek tipe personality yang hasilnya ku-posting di sini waktu itu) Saking udah lama nggak pernah dibuka, harus ngetik full address blog-nya di browser karena sejak make laptop terakhir ini belom pernah buka sama sekali. Agak sedih memang. Tapi kemarin pun aku cuma baca-baca ulang beberapa entry lama (aneh nggak sih kalo aku suka melakukan ini? Apa aku satu-satunya blogger yang suka baca-baca ulang entry lama?) lalu move on lagi. Baru hari ini, waktu nggak ada kerjaan dan pengen buka sesuatu yang baru, aku pun membuka kembali blog ini dan akhirnya teringat untuk mengecek apakah Mel/Byq tetap meng-update Superbyq-nya selama aku absen sepenuhnya dari dunia blog selama ini.

Tentu saja dia tetap update. Dan aku pun pertama-tama meng-klik bulan terakhir di mana aku masih membaca Superbyq dan mencoba catch up dari sana. Ada banyak sekali entry yang menungguku dan ini kayanya bakal makan waktu seharian. Tapi beberapa jam kemudian aku nggak sadar udah menghabiskan waktu lama nongkrongin Superbyq dan membaca-baca semua entry yang aku lewatkan selama ini. Dan aku menikmatinya.

Ini bukan betul-betul perjalanan ke masa lalu. Tapi ini mengingatkanku akan kebiasaan burukku kalo udah lulus/naik kelas: melupakan orang-orang yang sudah lama nggak kutemui. Kata orang mempertahankan teman itu lebih susah daripada mencari teman. Buatku dua-duanya susah. Malah mungkin mencari teman baru lebih susah. Makanya aku selalu lebih senang mencoba mempertahankan hubungan. Temen-temen SD-ku udah pada nggak tau ke mana dan hanya kadang-kadang masih kontak karena adanya Facebook dan/atau BBM, dan satu-satunya kelompok teman yang berhasil kupertahankan untuk tetep deket (baca: jalan bareng setidaknya beberapa bulan sekali) adalah teman-teman SMA-ku. Yang lain udah jarang ketemu, tapi kami berempat masih rajin jalan dan selalu berusaha menyempatkan diri ketemu. Akhir-akhir ini makin susah karena semuanya kerja dan satu sekolah di luar negeri (kecuali aku yang malas ini), tapi kami mencoba tetap nggak lost contact.

Membaca Superbyq membuatku kangen dengan Mel. Mungkin dia akan kaget karena kami nggak pernah sedeket itu ataupun melakukan hal-hal yang terlalu emosional semasa pertemanan kami. Hubungan kami adalah hubungan simbiosis mutualisme dan kedekatan yang terjadi hanya ada di kampus. Kami cukup tahu hal-hal basic tentang satu sama lain dan itu sudah cukup. Tapi dia satu-satunya temanku yang konstan semasa kuliah; satu-satunya orang yang kukenal dan tetep ada di deketku dari semester pertama sampe semester terakhir. Dengan caranya sendiri, she is important to me. Tanpa dia mungkin aku nggak bakal sanggup melewati hari-hari penuh cobaan di universitas kami tercinta itu (Dramatis mode: ON). As cheesy as it sounds, she was my rock. Dan aku nggak mau hanya karena kuliah sudah berakhir untuk kami berdua, lalu pertemanan kami pun berakhir.

Gagal mengikuti blognya adalah tanda aku mulai 'melupakan' dia. Membaca blog dengan setia adalah perbuatan yang sangat sepele dan gampang dilakukan. Intinya, kalo itu aja nggak bisa, rasanya aku nggak niat banget mempertahankan pertemanan kami. Jadi mulai hari ini aku mau mencoba lagi. Aku mau mencoba jadi temen yang nggak pelupa dan yang gampang kena fenomena out of sight, out of mind.

Tentu saja, nggak semua orang ingin mempertahankan hubungan. Baru-baru ini aku juga mencoba untuk reach out pada seseorang yang sudah nggak kontak denganku sama sekali selama lebih dari lima tahun. Seorang teman, dan, yah... sesuatu yang lebih. Mungkin itu alasannya dia tidak tertarik untuk berteman lagi. Yang membuatku merasa sedikit konyol, sudah lama aku berniat melakukan ini dan membayangkan kami bisa berteman lagi dan menghapuskan semua peristiwa nggak enak yang mungkin pernah terjadi gara-gara emosi dulu. Aku sudah membayangkan semua pasti bisa kembali menyenangkan lagi kalau saja aku mau reach out lebih dulu, karena dulu memang aku juga yang shut him out.

Tapi aku konyol karena sama sekali nggak menyangka mungkin saja dia tidak tertarik melakukan hal yang sama. Lagi-lagi aku jatuh karena pride, karena bahkan kemungkinan bahwa seseorang segitu nggak niatnya ngomong sama aku pun nggak terlintas di pikiranku sekali pun. Mungkin dia menganut prinsip; yang lalu biarlah berlalu. Dan karena toh kami sudah putus kontak segitu lama, buat apa kontak lagi? Buat apa catch up? Buat apa saling bertanya kabar dan berbasa-basi? Kami sudah jadi orang yang sangat berbeda. Apa gunanya?

Bukannya aku nggak pernah mengabaikan pertanyaan apa kabar basa-basi dari teman lama. I'm guilty of that too. Tapi itu teman yang memang nggak pernah akrab denganku dan, jujur saja, itu sama rasanya dengan orang-orang yang hampir nggak pernah kuajak ngobrol yang meng-add-ku di Facebook hanya karena kami pernah sekelas. Bukan orang yang pernah punya history denganku. Yang ingin kulakukan dengan mencoba mengontak dia kembali hanyalah untuk mencoba berteman lagi. Sama sekali nggak ada niat untuk mengulang kembali apa yang sudah terjadi dan terbukti nggak berhasil, kok. I just wanted to be in good terms with him again. That's all.

Tapi setelah jawaban yang ditunggu pun tidak muncul, akhirnya aku mengerti bahwa untuknya, sudah nggak ada alasan bagi kita untuk membicarakan apa pun lagi. Dulu kukira dia bukan tipe orang seperti itu tapi mungkin orang berubah. Atau mungkin ini semua salahku sendiri karena aku yang mendorongnya pergi lebih dulu. Ya sudahlah. Aku tidak terlalu kecewa. Some friends will be lost. Aku hanya berharap aku nggak melakukan kesalahan yang sama dengan teman-temanku yang lainnya yang pernah jadi bagian penting hidupku.

Mari mulai berhenti take for granted semua orang di sekitar kita.

Thursday, July 01, 2010

Kisah Petualangan Seorang Mahasiswi Sulit Lulus ke Masa Lalu

1
Memutuskan untuk meng-update blog ini setelah mendapatkan bahan cerita baru. Apalagi setelah pembicaraan sama Mel tadi sore...

Mel: Saking sibuknya ngerjain skripsi, blog-ku ampe terlantar.
Aku: Oh ya? *seneng dapet temen senasib* Akhirnya blog-mu terlantar juga!
Mel: Iya, udah DUA HARI sejak aku terakhir nge-post...
Aku: .........................................................

Hari ini aku berkunjung ke SMA-ku tercinta (perlu ditekankan lagi bahwa ini berbeda dengan waktu aku mengatakan ‘universitasku tercinta’. Yang satu mengandung sarkasme dan yang satu tidak. Coba tebak mana yang tulus dan mana yang sarkastis.) untuk melegalisir ijazah lagi untuk universitasku tercinta yang suka ngerepotin orang dengan masalah nggak penting (jelas-jelas ijazah udah dikasi dari zaman pendaftaran dulu.. emang mau diapain lagi sih?) sebagai persyaratan sidang skripsi.

Oh, ya! Mahasiswi yang nggak lulus-lulus ini akhirnya sudah akan sidang skripsi! Hore!

Statusnya hari ini adalah: H-8 menuju deadline skripsi.
Berapa kali aku pernah belajar/mengerjakan apa pun yang berhubungan dengan tugas sekolah/kuliah sampai jam tiga pagi sepanjang hidupku: 0 (NOL)

... sampai KEMARIN MALAM.

Minggu neraka sudah dimulai.

(Well, setidaknya ini dimulai seminggu sebelumnya, bukan sehari sebelumnya seperti seorang mahasiswi nggak lulus-lulus lain yang kita kenal waktu mengerjakan KP-nya… *lirik-lirik blog sebelah*)

Oke. Kembali ke kunjungan ke SMA-ku tercinta. Berhubung ini udah masa libur, maka nggak seorang pun anak SMA imut-imut yang pake seragam terlihat di sekolah. Yang ada malah tukang-tukang bangunan yang sepertinya sedang merenovasi bangunan sekolahku… LAGI. Kayak belom cukup aja aku nggak ngenalin tuh tempat lagi.

Pos satpam tempat aku biasa turun udah nggak ada. Jadi aku masuk dari satu-satunya pintu terdekat yang terlihat.

Di depan pintu ketemu salah satu mantan guru BP-ku. Dia masih inget aku *senang* Aku juga inget dia, dibuktikan dengan bagaimana otakku langsung menyuplai namanya dengan mudah. Aku menjelaskan tujuan kedatanganku dan segera melanjutkan misiku.

Masuk ke dalem… tengak-tengok. Kantor TU di mana yah? Apakah ruangan berbentuk kantor guru yang penuh orang itu? Celingak-celinguk, ruangan ini enggak ada papan namanya! Sungguh nggak membantu. Insting mengatakan di atas, jadi aku naik ke lantai 2, yang adalah tempat ruang guru & TU semasa aku sekolah dulu… lima tahun yang lalu.

Dan berhubung semuanya udah berubah, tentu saja kantor-kantor itu udah nggak di tempatnya semula. Yang ada lab-lab keren praktikum yang modern yang dulu kami nggak pernah punya.

Sh!t. Aku bener-bener kesasar.

Turun lagi dan celingak-celinguk kayak anak ilang.

Lewat lagi di depan ruang berbentuk kantor guru yang penuh orang itu dan kali ini berpapasan dengan mantan guru SD-ku. Dia juga masih inget aku (Astaga, kok aku bisa nempel banget di ingetan guru-guru ini padahal aku udah ansos dari dulu), terus dia langsung nodong nanya apa aku masih inget dia. Kubilang inget, dan untungnya aku emang inget. Masih nggak yakin, dia nanya siapa namanya. Dengan PD aku langsung menyebutkannya. Terima kasih, otak dan memori jangka panjang yang baik! (Untung aku gak ketemu beberapa guru yang aku MEMANG lupa namanya, yang sempat kuceritakan di kunjungan terakhirku ke SMA ini… Ga enak banget kan kalo harus bilang, “Er… anu, Bu, saya inget muka Ibu, tapi nama Ibu siapa ya?”)

Akhirnya, dengan bijaksana memutuskan untuk bertanya ke orang yang paling aman untuk ditanyai: Pak Satpam! Untungnya dia ada di deket pintu. (Begitu juga dengan mantan guru BP-ku, tapi kok nggak enak ya rasanya nanyain sama dia ruang TU di mana serasa bukan mantan murid situ…) Pak Satpam tua yang baik itu pun memberi petunjuk bahwa ruang TU ada di lantai 3.

Naik-naiklah aku ke puncak gunung dan teringat betapa melelahkannya dulu mendaki tangga setiap hari itu. Di depan sebuah ruangan ada seorang ibu-ibu dan anaknya lagi duduk. Kusimpulkan bahwa ini ruang TU. Aku mengintip ke dalam dan bilang permisi sama ibu-ibu TU yang sumpah-aku-ga-pernah-tau-namanya-padahal-dulu-sering-nemenin-Tama-beli-kertas-ulangan-sama-dia… dan menjelaskan maksud kedatanganku. Katanya, suruh tinggal aja ijazahnya. Terus dia bilang, “Kok cuma selembar? Tanggung amat, daripada bolak-balik fotokopi aja dulu lima lembar gitu.”

Hoe. Oke deh… Aku bertanya apa di sekitar situ ada tempat fotokopi. (Dulu ada, tapi sekarang SUSAH BANGET menemukan apa pun lagi.) Dia bilang ada di bawah. BAWAH. Bawah… dengan yakin ga butuh petunjuk lebih lanjut, aku dengan sok tau pergi ke bawah.

Ga ketemu, tentu saja. Aku inget di mana tempat fotokopi itu berada lima tahun yang lalu, tapi akibat renovasi total, aku nggak bisa mengenali apa-apa lagi. Aku mencoba membayangkan letak tempat fotokopi itu dulu dan di mana dia bakal berada sekarang… dan gagal. (Aku memang lemah dalam hal persepsi ruang.) Lagian, kayanya nggak mungkin deh tuh tempat fotokopi masih ada di sana kalo semua tempat di sekitarnya udah digusur. (Atau lebih tepatnya, DITEMBOK.)

Terpaksa aku bertanya pada Pak Satpam yang baik lagi. Eh, dia malah bilang suru pergi ke tempat fotokopi yang di luar. Yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki tapi agak jauh. Aku akhirnya menyuruh supirku ke sana, tapi dia dengan baik hati menawarkan diri untuk jalan kaki ke sana. Oke deh. Aku pun menunggu di dalam mobil yang ber-AC seperti Princess yang baik.

Tak lama kemudian dia kembali dengan lima kopi ijazahku. Aku pun kembali ke TU. Bertanya-tanya apa ada yang sudah mulai curiga dari tadi anak aneh yang bukan penduduk sekolah ini mondar-mandir gak jelas mau ngapain. Sampai di TU, ibu-ibu TU sudah nggak ada. Yang ada bapak-bapak TU (aku tahu, AKU TAHU, aku payah banget dalam mengingat nama orang-orang administrasi) yang lagi telpon. Aku memutuskan menunggu di depan pintu yang sedikit terbuka.

Telponnya gak kelar-kelar.

Ibu-ibu yang bawa anaknya itu masih dengan sabar menunggu (kayaknya menunggu Kepala Sekolah yang lagi MIA). Dia menangkap mataku terus senyum. Aku otomatis senyumin balik, walaupun otak udah berteriak-teriak panik, “Um. Ada apa ini? Aku gak kenal dia. Aku gak kenal dia kan??”

Telponnya masih gak kelar-kelar.

Setelah sekitar lima menit, memutuskan untuk duduk di sebelah sang ibu, yang ternyata emang orangtua murid dan aku gak kenal (maklum, aku nggak terbiasa ngasih senyum ke orang tak dikenal. Kepanikan tadi murni disebabkan oleh betapa ansosnya saya…). Kenapa aku bisa tahu? Karena dia nanya, “Mau masuk ya?”

Aku berpikir: Maksudnya mau masuk TU atau masuk SMA sini? Dua hal yang sangat berbeda. Yang satu jawabannya ya, yang satu jawabannya tidak.

Akhirnya memutuskan untuk mengklarifikasi kedua pertanyaan sekaligus dengan bilang bahwa aku mau legalisir ijazah. Dia bilang, “Oh… kirain baru mau masuk sini.”

Um. Oke deh. Se-absurd apa pun itu, aku senang karena tampangku masih pantes dikira anak lulusan SMP yang baru mau masuk SMA.

Si ibu-ibu kemudian menginterogasiku, nanyain kuliah di mana lah, jurusan apa lah, IMC itu ngapain lah (SERIUS DEH, itu selalu hal pertama yang ditanyakan semua orang. Pembicaraannya selalu berjalan seperti ini… Orang: Kamu ambil jurusan apa? Aku: Komunikasi. Orang: Ada pembagian lagi? Konsentrasinya apa? Aku: IMC/Marketing Communication. Orang: Marketing Communication itu apa ya/ngapain aja ya? Aku: *menjelaskan untuk keseribu kalinya, dan setiap kali masih merasa nggak yakin aku sendiri ngerti* Biasanya kalo males aku cuma bilang, “Oh, itu advertising.” Dan aku nyaris bisa merasakan tatapan tajam dosen tercinta Mel kalo dia ampe denger penjelasan ngaco ini…)

Begitulah pembicaraan itu berlanjut. Bukannya nanyain soal bagus nggak SMA-ku itu, dia malah nanyain soal kuliahku. Jangan sampe dia berniat masukin anaknya ke universitasku tercinta… Oh tidak, jangan-jangan aku telah nggak sengaja menjerat mangsa baru! Seharusnya dia tanya-tanya soal SMA-ku aja, dong! Kan anaknya mau masuk SMA? Aku akan dengan senang hati mempromosikan SMA-ku dan bilang bahwa hari-hari terindahku kuhabiskan di sana… (walaupun sekarang kurikulum dan segalanya udah berubah drastis dan pendapatku pasti nggak valid lagi. Aduh. Aku baru saja memakai kata valid. SKRIPSI SIALAN!)

Ada satu titik di mana aku butuh waktu beberapa detik untuk menjawabnya.

Ibu-ibu itu: Komunikasi itu berapa tahun ya?
Aku: ………… Empat tahun.

SECARA TEKNIS, aku gak bohong. Kuliah komunikasi yang normal emang cuma empat tahun, tiga setengah malah kalo anaknya rajin mampus. Lima tahun itu kan cuma aku. Jadi bener kan jawabanku? Kan dia nanyanya kuliah komunikasi berapa tahun. Bukan kuliahku berapa tahun…

Tapi aku jadi khawatir kebohonganku ketahuan waktu dia nanya lagi,

Ibu-ibu itu: Kamu lulus dari sini tahun berapa?
Aku: …………… 2005. *membayangkan otaknya bekerja menghitung-hitung ini sudah tahun berapa… di mana kibulanku tadi bakal langsung ketahuan. Untungnya, kalau dia menyadari keanehan itu, dia nggak nanya lagi. Syukurlah…*

Sementara itu,

TELPONNYA MASIH GAK KELAR-KELAR.

Terus ada bapak-bapak dateng, di mana aku bertanya-tanya apa ini Kepala Sekolahnya yang sekarang (bukan, ternyata), dan begitu dia masuk TU, berapa detik kemudian bapak-bapak TU selese nelpon dan melayani dia! ARGH! Aku mulai gak tahan duduk di situ. Aku harus cepet-cepet ke kampus.

Mana panas mampus lagi. Entah global warming atau apa, tapi aku nggak inget udaranya sepanas itu di luar kelas dulu waktu aku sekolah di sana. Kayaknya dulu teduh deh. Tapi tadi pagi bener-bener serasa di oven.

Apa karena itu di lantai tiga yah? Padahal ruangan-ruangannya udah dimundurin lagi dan makin jauh dari balkon terbuka daripada waktu aku di sana dulu… Sungguh aneh.

Akhirnya memutuskan untuk memotong pembicaraan bapak-bapak TU dan bapak-bapak tak dikenal karena aku kan cuma mau naro ijazah doang. Si ibu-ibu dan anaknya tenang banget serasa di ruangan ber-AC, tapi aku udah nggak tahan. Jadi aku pun berdiri dan mengintip ruang TU lagi…

Dan dengan keajaiban (atau entah karena melihat aku yang dari tadi nungguin mo masuk), si bapak-bapak tak dikenal tiba-tiba pamit pada bapak-bapak TU dan pergi pas aku sampai di depan pintu. SYUKURLAH! Aku pun meninggalkan ijazahku, walaupun gak jelas kapan bisa diambilnya (kalo hari itu Kepseknya dateng baru besok bisa diambil… Apakah sang Kepsek sedang liburan juga?).

Aku pun pamit pada si ibu-ibu orangtua murid dan cepat-cepat kabur dari situ. Turun tangga satu lantai, dengan bodohnya langsung belok kiri ke arah luar… dan menyadari bahwa INI KAYAKNYA BUKAN JALAN KELUAR YANG TADI DEH. Aku menemukan diriku di depan aula olahraga, di mana dulu V pernah ngumpet waktu telat masuk kelas Ekonometri gara-gara semua anak yang telat wajib joget di depan kelas. Dengan bodoh menyadari bahwa aku masih di lantai dua, bukan lantai satu.

ARGH! Kesasar di SMA sendiri, nggak lucu banget. Merasa bodoh, turun tangga lagi dan AKHIRNYA keluar dengan selamat.

Hari Senin kayaknya baru aku niat balik ke sana. Daripada Jumat dateng tapi ternyata belom ditandatangan…

Doakan petualanganku ke sana waktu mengambil ijazah yang udah dilegalisir nggak begitu penuh halangan dan rintangan seperti hari ini, ya! (Dan supaya aku nggak kebetulan bertemu guru yang aku lupa namanya… terus juga supaya aku lebih nyadar arah dan bisa mengingat jalan dengan betul.)

Thursday, April 15, 2010

Jung Personality Type Test

1
Udah pernah dites dulu, tapi belom pernah disimpen. Kayanya blog tempat yang bagus untuk naro ini...

ISFJ Profile (Introverted Sensing Feeling Judging) Analysis

ISFJs are characterized above all by their desire to serve others, their "need to be needed." In extreme cases, this need is so strong that standard give-and-take relationships are deeply unsatisfying to them; however, most ISFJs find more than enough with which to occupy themselves within the framework of a normal life. (Since ISFJs, like all SJs, are very much bound by the prevailing social conventions, their form of "service" is likely to exclude any elements of moral or political controversy; they specialize in the local, the personal, and the practical.)

ISFJs are often unappreciated, at work, home, and play. Ironically, because they prove over and over that they can be relied on for their loyalty and unstinting, high-quality work, those around them often take them for granted--even take advantage of them. Admittedly, the problem is sometimes aggravated by the ISFJs themselves; for instance, they are notoriously bad at delegating ("If you want it done right, do it yourself"). And although they're hurt by being treated like doormats, they are often unwilling to toot their own horns about their accomplishments because they feel that although they deserve more credit than they're getting, it's somehow wrong to want any sort of reward for doing work (which is supposed to be a virtue in itself). (And as low-profile Is, their actions don't call attention to themselves as with charismatic Es.) Because of all of this, ISFJs are often overworked, and as a result may suffer from psychosomatic illnesses.

In the workplace, ISFJs are methodical and accurate workers, often with very good memories and unexpected analytic abilities; they are also good with people in small-group or one-on-one situations because of their patient and genuinely sympathetic approach to dealing with others. ISFJs make pleasant and reliable co-workers and exemplary employees, but tend to be harried and uncomfortable in supervisory roles. They are capable of forming strong loyalties, but these are personal rather than institutional loyalties; if someone they've bonded with in this way leaves the company, the ISFJ will leave with them, if given the option. Traditional careers for an ISFJ include: teaching, social work, most religious work, nursing, medicine (general practice only), clerical and and secretarial work of any kind, and some kinds of administrative careers.

While their work ethic is high on the ISFJ priority list, their families are the centers of their lives. ISFJs are extremely warm and demonstrative within the family circle--and often possessive of their loved ones, as well. When these include Es who want to socialize with the rest of the world, or self-contained ITs, the ISFJ must learn to adjust to these behaviors and not interpret them as rejection. Being SJs, they place a strong emphasis on conventional behavior (although, unlike STJs, they are usually as concerned with being "nice" as with strict propriety); if any of their nearest and dearest depart from the straight-and-narrow, it causes the ISFJ major embarrassment: the closer the relationship and the more public the act, the more intense the embarrassment (a fact which many of their teenage children take gleeful advantage of). Over time, however, ISFJs usually mellow, and learn to regard the culprits as harmless eccentrics :-). Needless to say, ISFJs take infinite trouble over meals, gifts, celebrations, etc., for their loved ones--although strong Js may tend to focus more on what the recipient should want rather than what they do want.

Like most Is, ISFJs have a few, close friends. They are extremely loyal to these, and are ready to provide emotional and practical support at a moment's notice. (However, like most Fs they hate confrontation; if you get into a fight, don't expect them to jump in after you. You can count on them, however, run and get the nearest authority figure.) Unlike with EPs, the older the friendship is, the more an ISFJ will value it. One ISFJ trait that is easily misunderstood by those who haven't known them long is that they are often unable to either hide or articulate any distress they may be feeling. For instance, an ISFJ child may be reproved for "sulking," the actual cause of which is a combination of physical illness plus misguided "good manners." An adult ISFJ may drive a (later ashamed) friend or SO into a fit of temper over the ISFJ's unexplained moodiness, only afterwards to explain about a death in the family they "didn't want to burden anyone with." Those close to ISFJs should learn to watch for the warning signs in these situations and take the initiative themselves to uncover the problem.

Famous ISFJs:
St. Teresa of Avila (Teresa de Jesus)
Louisa May Alcott
Alfred, Lord Tennyson
Queen Elizabeth II of England
Robert E. Lee
Queen Mary I ("Bloody Mary") of England

Guardian Portrait of the Protector (IFSJ)

We are lucky that Protectors make up as much as ten percent the population, because their primary interest is in the safety and security of those they care about - their family, their circle of friends, their students, their patients, their boss, their fellow-workers, or their employees. Protectors have an extraordinary sense of loyalty and responsibility in their makeup, and seem fulfilled in the degree they can shield others from the dirt and dangers of the world. Speculating and experimenting do not intrigue Protectors, who prefer to make do with time-honored and time-tested products and procedures rather than change to new. At work Protectors are seldom happy in situations where the rules are constantly changing, or where long-established ways of doing things are not respected. For their part, Protectors value tradition, both in the culture and in their family. Protectors believe deeply in the stability of social ranking conferred by birth, titles, offices, and credentials. And they cherish family history and enjoy caring for family property, from houses to heirlooms.

Wanting to be of service to others, Protectors find great satisfaction in assisting the downtrodden, and can deal with disability and neediness in others better than any other type. They are not as outgoing and talkative as the Provider Guardians [ESFJs], and their shyness is often misjudged as stiffness, even coldness, when in truth Protectors are warm-hearted and sympathetic, giving happily of themselves to those in need.

Their reserve ought really to be seen as an expression of their sincerity and seriousness of purpose. The most diligent of all the types, Protectors are willing to work long, hard hours quietly doing all the thankless jobs that others manage to avoid. Protectors are quite happy working alone; in fact, in positions of authority they may try to do everything themselves rather than direct others to get the job done. Thoroughness and frugality are also virtues for them. When Protectors undertake a task, they will complete it if humanly possible. They also know better than any other type the value of a dollar, and they abhor the squandering or misuse of money. To save, to put something aside against an unpredictable future, to prepare for emergencies-these are actions near and dear to the Protector's heart. For all these reasons, Protectors are frequently overworked, just as they are frequently misunderstood and undervalued. Their contributions, and also their economies, are often taken for granted, and they rarely get the gratitude they deserve.

Mother Teresa, George H.W. Bush, Jimmy Stewart, and Tsar Nicholas II are examples of Protector Guardian style.

Friday, March 19, 2010

Cerita Dari Singapura.. Sekitar Sebulan Yang Lalu

3
Hmm.. hmm.. Mulai banyak debu lagi nih. Mulai banyak sindiran-sindiran dari Mel baik di shoutbox maupun entry-entrynya. Aku jadi ga enak disebut-sebut terus, promosi gratisnya sering banget sih.

Udah lama kepikir pengen update soal ke Singapur kemaren. Kok kayanya kalo ke sana, kerjaannya itu-itu aja yah. Dengan perkecualian kunjungan bisnis dan segala macem urusan orangtuaku, aku kayanya cuma punya sedikit tujuan tertentu:

- Makan Hainan Chicken Rice di Food Republic (namanya General something gitu deh.. itu udah terjamin enak) atau di lantai paling atasnya Far East Plaza (sama enaknya, mungkin lebih enak)
- Nyari es krim potong yang dijual di sepanjang jalan Orchard di gerobak-gerobak dan dimakannya pake wafer, rasanya juga udah selalu sama: Mocha Chip (yang paling enak)
- Mengunjungi trio toko buku utama yang sudah menjadi tujuan pasti: Sunny Bookshop di Far East Plaza (toko second-hand books, bisa rental pula, murah), Borders di Wheelock Place, dan Kinokuniya di Takashimaya (super besar dan terlengkap dari semuanya!)

Hmm... hmm. Apa lagi ya?

Selain itu sih nemenin yang lain shopping ke mana saja. Tujuanku kayaknya cuma tiga itu aja. Agak menyedihkan memang, tapi karena udah keseringan ke sana jadi gak tau mau ngapain lagi. Aku sih ke sana cuma untuk me-restock koleksi buku-buku imporku aja, soalnya di sini gak ada toko buku impor yang jual buku-buku sebanyak itu, apalagi yang baru-baru. Mengingat sekarang aku udah jadi pembaca eksklusif buku-buku impor, akhirnya kami ke sana setiap beberapa kali setahun, walaupun tumpukan buku-bukuku yang belom dibaca tampaknya ga menyusut-menyusut walaupun udah berbulan-bulan gak pergi. Kayaknya aku beli buku jauh lebih cepet daripada kemampuanku membacanya. Laper mata terus nih.

Udah gitu sekarang udah sukses belanja di Amazon.com, jadi ketagihan belanja di sana terus. Hiks! Kartu kreditku yang malang! Cuma yang nyebelin ya ongkos kirimnya yang gak kira-kira itu... Kapan ya ada cabang Amazon.com di Indonesia? Kalo udah ada, aku jadi orang terbahagia sedunia deh, bisa shopping buku dari rumah tanpa biaya tambahan yang banyak.

Wow, ngelanturnya jauh banget. Satu hal lagi yang mau kuceritain adalah sesuatu yang membuka aib keluargaku....

....

Yaitu, ternyata mamaku sama kleptonya dengan tanteku!!

(Itu loh, yang nyolong penjepit jahe di Sushi Tei di entry kapan itu, dan yang pengen bawa pulang botol Equil ijo cantik itu)

Mungkin malah mamaku sumbernya. Mungkin kedua kakak beradik ini saling mengajari satu sama lain!

Dan kemaren aku dipaksa menjadi kaki tangan proses klepto ini T_T

Dari sejak aku kecil, mamaku udah senang ngambilin perabotan makan yang ada di pesawat. Dan mengingat kami sering banget naik pesawat, koleksi kita udah nggak kira-kira. Semua sendok, garpu, tempat puding bahkan tempat sambel di rumah berasal dari pesawat. Bahkan mungkin ada yang punya logo Garuda Indonesia segala. Biasanya aku cuma geleng-geleng melihat perbuatan ilegal ini.

Tapi kemaren, berhubung aku yang duduk di pojokan deket tas, aku dipaksa menjadi kaki tangan penyelundup barang-barang tersebut! Dengan sangat merasa berdosa akhirnya aku menerima sendok-sendok garpu itu dan menyelipkannya ke tas kami! Jadi sekarang aku sudah secara resmi menjadi bagian dari Operasi Penyelundupan/Kleptomania Perabotan Makan dari Pesawat. Ugh! Wahai para maskapai penerbangan, ampunilah kami sebab mamaku tidak tahu apa yang ia perbuat!