Saturday, November 08, 2008

Just Another Family Dinner 2: A Sequel

0
Cerita lama sih... tapi si Droo ngotot nyuruh update, ya sudah ^^ Kenapa ya kalo update blog ini rasanya jadi males?

...krik, krik.

Ya iyalah.. gak ada yang baca gitu -__-; Well, kecuali satu-dua orang. Dan aku merasa di blog ini aku harus menulis kejadian yang lucu-lucu dan menghibur, gak bisa curhat soal hal-hal yang terlalu depresif gara-gara blog ini bisa diakses praktis siapa saja... sama sekali tidak aman untuk membeberkan rahasia terdalam hati seorang agen rahasia!

*angin berhembus*

Mm.. iya. Poinnya adalah: cerita tentang makan malam keluarga lainnya. Cerita favorit pembaca sekalian di mana pasti terjadi kejadian-kejadian menarik. Terutama kalo ceritanya featuring... ya, siapa lagi, Tante Jambu-Bol-Garis-Miring-Penyelundup-Botol-Equil favorit kita semua! Masih ingatkah kalian akan dia? Dia sudah muncul di dua cerita sebelumnya, yang pertama cerita Natal yang kalo nggak salah di blogku yang dulu, dan yang kedua cerita makan malam keluarga yang kayaknya ada di entry awal-awal blog ini (males banget nge-linknya).

Sebetulnya cerita kali ini nggak selucu yang sudah-sudah. Maklumlah, sekuel. Tahu kan gimana sekuel jarang bisa menandingi cerita aslinya.

Duh. Garing banget nih rasanya. Udah lama gak nulis dengan gaya seperti ini -_-;

Omong-omong, si Tante kemaren baru dateng ke rumah. Aku jadi merasa bersalah nih. Tulis nggak ya? *digaplok pembaca yang udah gak sabaran*

Ya udah, tulis deh. Kita buka saja aib keluarga ini...

Jadi ceritanya ini makan malam ulangtahun kakak dan omaku yang kebetulan tanggalnya bersamaan, dan dirayakan dengan makan-makan di Sushi Tei! Kenapa Sushi Tei? Karena mamaku nanya padaKU mau makan di mana. Ya, aku.

Mama: Enaknya makan di mana?
Aku: *memandang mama beberapa saat, mencoba mengira-ngira apa dia salah mengira aku sebagai kakakku. Rasanya nggak mungkin, soalnya 1) dia cowok dan 2) beda banget gitu loh. Tapi kalo nyebut nama emang sering salah. Seringnya tiga-tiganya disebut dan yang bener munculnya paling belakang. Mungkinkah ini gejala kepikunan yang mencapai tingkat berikutnya?*
Aku: Aku yang nentuin?
Mama: Iya.

Yang punya hajat siapa, sih?? Ya udah deh. Emang gue pikirin. Malah kesempatan bagus untuk memilih restoran favorit~

Aku: *dengan yakin dan tegas* SUSHI TEI!
Mama: Oke deh.

Hore! Kita makan sushi! Untuk suatu alasan yang tidak bisa dijelaskan, mengingat ini bahkan bukan ulangtahunku!

Sampai di sana, semua orang sibuk pesen sana-sini. Kecuali beberapa orang seperti papaku yang nggak begitu suka masakan Jepang, semua orang keliatan kayak belom makan seminggu, terutama yang cowok-cowok. Aku tentu saja memesan menu-menu favoritku dengan senang hati juga.

Papa: Duh, nggak ada yang enak ini...
Mama: Abis dia maunya makan di sini... *melirikku*
Aku yang inosen dan tak berdosa: *melotot* LOH??

Kok sekarang aku disalahin?? -___-; Jelas-jelas tadi memang aku yang disuruh milih. Udah tahu juga aku paling suka sushi. Dasar ibu-ibu >___>

Yah, akhirnya aku tidak mempedulikan tudingan tidak beralasan itu dan meneruskan makan. Lalu sampai waktunya pesan dessert! Sepupuku pesen entah apa dan aku pesen es krim wafer nikmat. Waktu pesenanku dateng, Tanteku yang terkenal itu tentu saja memberikan komentar kagum random-nya yang biasa:

Tanteku: Liat tuh, (ngomong ke sepupuku) pesenannya lebih lucu! *menunjuk pesenanku*
Aku: ....

Gak apa-apa. Sudah biasa kok. Serius ini dialog nggak dibuat-buat loh, btw. Orisinil. Aku juga nggak ngerti bagaimana dia bisa selalu melihat sisi yang nggak dilihat orang lain. Misalnya gimana dessert-ku terlihat lebih LUCU daripada punya sepupuku, dan dia mengatakannya seolah-olah sepupuku harusnya jealous atau berusaha memesan sesuatu yang lebih lucu lagi (oh ya, ini sepupuku yang sering "bersaing" denganku itu, pernah kuceritakan di entry lain juga, mungkin di blog lama. Setelah kakaknya mengikuti "jejakku" masuk kampus yang sama denganku, surprise surprise... dia memutuskan untuk masuk ke sana juga! Aku betul-betul memutar bola mataku waktu mamaku ngasih tahu berita ini. Ada apa sih dengan keluarga ini?? Dan dia juga meminta nasehatKU soal kuliah! Aku yang bukan cuma salah masuk jurusan tapi juga salah milih kampus!! Kalau dia betul-betul mau minta nasehatku, bakal kusuruh dia jauh-jauh dari kampusku, tapi kayaknya dia nggak bakal menganggapnya niat baik dan mengira itu undangan bersaing lainnya lalu malah masuk sana. Sigh... some families are just that dysfunctional.)

Kembali ke Tante kita yang spotlight-nya sempat teralihkan sesaat. Kalian tahu kan tempat... er.. jahe(?) di Sushi Tei yang ada penjepitnya buat ngambil, karena bentuknya lembaran? Well.. aku melihat Tanteku mengamatinya, lalu mengatakan kalimat terkenal itu:

Tanteku: Penjepitnya lucu ya.

Deja vu!! Deja vu Botol-Equil-ijo-ijo-bagus-itu!!

Aku yang mulai menyadari tendensi kleptomaniak ini mulai mengamati gerak-gerik tanteku dengan curiga. Dan benar saja!! Di akhir makan malam, dia mengeluarkan penjepit itu dari tempat jahe, membungkusnya dengan tissue, dan menyelundupkannya ke tasnya!!!! ARGGH, aku punya Tante Kleptomaniak Penjepit Jahe!! (Atau lebih tepatnya, Tante Kleptomaniak Benda-Benda Lucu di Restoran)

Aku cuma mengamatinya sambil melotot nggak percaya. Dan kali ini nggak ada seorang pun yang mencegahnya karena... nggak tahu deh. Mungkin karena penjepit itu nggak segede botol Equil. Tapi.. staf Sushi Tei yang malang!! Mereka nggak bakal menemukan penjepit jahe yang hilang secara misterius itu selamanya!! Aku sudah bisa membayangkan headline di koran-koran, "Penjepit Jahe Hilang Secara Misterius dari Restoran Sushi Tei, Pondok Indah". Hmm... mengingat kami reserve meja, mereka bakal tahu nama orang terakhir yang makan di meja itu sebelum si penjepit jahe menghilang. Dan.. nama kami akan tercemar selamanya. Lalu bagaimana kalau kami di-black list dari semua Sushi Tei gara-gara tanteku?? Tidakkk... Sushi Tei restoran favoritku!!

Omong-omong, dia juga membawa pulang tempat dessert sepupuku setelah isinya dihabiskan. Kurasa walaupun secara keseluruhan es krimku lebih lucu, sepupuku tetap menang karena dia punya mangkuk lucu sebagai tempatnya dan aku cuma punya piring biasa.

Argh. Aku betul-betul nggak kepingin melihat adanya Just Another Family Dinner 3.

Edited later

OMG. O.M.G.

Aku baru saja melihat kembali entry Botol Equil untuk membandingkan kedua kasus dan tahu apa paragraf pembukanya?

Adalah sebuah cerita tentang keluarga yang ingin mengadakan acara makan malam kecil-kecilan untuk merayakan ulangtahun kakakku dan omaku yang tanggalnya persis sama...

!!!!

KEDUANYA SAMA-SAMA MAKAN MALAM MERAYAKAN ULANGTAHUN MEREKA!!

Apakah ini artinya setiap tahun, saat kami merayakan ulangtahun kakak dan omaku, tanteku bakal menyelundupkan sesuatu dari restoran? Apakah ini pola behavior kleptomaniak tersebut? Apakah para petugas yang menginvestigasi bisa langsung melihat kesamaan ini dan menangkap kami pada family dinner berikutnya??

So much for hoping there won't be another sequel.

Thursday, June 26, 2008

Executive-Class-Newbie on A Plane [Snakes on A Plane: A Sequel]

2
Mmm.. oke, cerita ini memang udah lama banget. Tapi sayang kalo gak dimasukin. Waktu kejadiannya aja panik banget nyari-nyari bolpen dan kertas untuk nulis supaya jangan sampe lupa. Sayangnya bolpen ada di tas tapi ga ada kertas di dalam pesawat. Adanya cuma kantong buat muntah, dan... aku gak mau diliatin pramugari dengan curiga lagi nulis-nulis di atas kantong itu. Yep, akhirnya... berjuta-juta tahun kemudian baru cerita ini bisa didokumentasikan.

Jadi begini ceritanya, kira-kira seminggu lalu aku kabur ke Singapore lagi untuk men-stok ulang buku-buku berbahasa Inggris keren yang kayaknya ada di semua negara kecuali di sini. Lalu entah bagaimana aku berakhir dengan tiket Executive Class sementara mamaku di Economy Class. Jadilah aku duduk sendiri, tanpa teman, sendirian...

Di Executive Class.

Ini baru kali keduanya aku duduk di sana. Yang pertama terjadi beberapa waktu lalu, waktu aku, mama, papa, dan kakakku lagi jalan-jalan ke Bali. Dalam perjalanan pulang, waktu mau masuk pesawat, tiba-tiba si pemeriksa tiket memanggil kami dan menyuruh kami tunggu sebentar. Kami berpandangan panik. Apakah kami ketahuan menyelundupkan barang ilegal? Apakah paspor kami palsu? Apakah kami diduga sebagai teroris? *ditimpuk karena kebanyakan nonton film action*

Ternyata, kami di-upgrade ke Executive Class.

Tapi kejadian itu ternyata nggak banyak menolong, mengingat kekacauan yang terjadi pada perjalanan kali ini. Aku sudah lupa pengalaman dulu itu, jadi masih agak norak deh waktu terbang ke Singapore itu. Well, intinya sih, kalo duduk di sana, pramugari rajin mondar-mandir ngasih segala macem. Kayaknya jarang banget dapet waktu untuk sendiri. Awalnya dikasih minum (dalam gelas, sementara di Economy Class dalam kemasan plastik yang harus dibuka sendiri dan kalau sampe muncrat dalam prosesnya tanggung sendiri akibatnya), dan sesudah itu take off tak lama kemudian. Aku cukup senang karena sebelahku kosong, bahkan kursi di seberang gang barisanku juga kosong. Hmm... serasa private jet sendiri.

Setelah take off, aku memundurkan sandaran kursi. Secara instingtif memencet tombol yang paling depan. Ups. Lho? Kok malah sandaran kaki yang naik? Aku nunduk dan ngeliat ternyata ada tiga tombol. Hmm, satu untuk mundurin dan satu untuk majuin lagi. Yang kupencet tadi buat sandaran kaki. Biasanya di Economy cuma ada satu. Setelah mempelajari ini, aku memencet tombol yang benar, dan mumpung tuh sandaran kaki dah setengah keluar, kupencet juga biar keluar sekalian.

Ahh... nyaman.

Waktu makan pun datang. Untungnya aku ingat fakta yang satu ini dari penerbangan di Executive Class sebelumnya; meja ada di bawah handrest, bukan di sandaran kursi depan. Dengan bangga mengeluarkan meja sebelum si pramugari datang untuk menghidangkan makanan (yang entah bagaimana aku cuma dapet sisa dari 2 pilihan yang ada, padahal penumpang di kelas itu sedikit. Huff...). Ternyata makan sambil sandaran kakinya naik itu nggak enak. Nah, waktu aku mau nurunin lagi inilah sedikit masalah terjadi.

....
....
....

Yang mana tombolnya??

Aku memeriksa tombol di handrest sebelah kanan. Ada gambar sandaran kaki lagi, tapi waktu kucoba gak terjadi apa-apa. Yang ada malah tuh sandaran makin melorot ke bawah. Duh. Gimana cara naikinnya lagi?? Sial. Sial. Nanti pas mendarat kan semuanya harus dibalikin ke posisi awal. Haruskah aku nanya dan mengaku aku gaptek di Executive Class? Panikpanik.

Aku memutuskan untuk makan dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Masih banyak waktu untuk mencari tahu cara mengembalikannya ke awal... Setelah selesai makan, sang pramugari yang setia melayani menawarkan sekontainer kecil es krim Haagen Dasz. Haagen Dasz! Yang mahal itu! *norak mode: ON*

Aku segera mencomot yang rasa cokelat dengan PD. Setelah sang pramugari pergi, aku menatap tu kontainer kecil. Mmm... sendoknya mana ya? Aku memeriksa peralatan makanku dan hanya menemukan satu sendok. Hm. Hm. Aku memutuskan untuk membuka tutupnya saja, berharap sendoknya akan muncul secara ajaib di dalamnya...

Dan ternyata, memang ada sendok di dalam sana. Oh.

Yah, setidaknya, kurasa itu sendok. Bentuknya agak gak jelas. Dua ujungnya bulet dan panjangnya gak seberapa. Lebih mirip tutup kaleng Coca Cola tanpa lubang. Meskipun gak yakin aku bisa makan dengan itu, dan masih gak yakin itu memang sendok, akhirnya aku memakainya dengan PD, berdoa agar si pramugari gak ngeliat trus ngedatengin dan menjelaskan dengan sopan bahwa itu bukan sendok, melainkan... apalah. Benda nggak penting yang tidak seharusnya dipakai untuk makan pokoknya.

Tapi aku berhasil menghabiskan es krim itu dengan tenang, walaupun sedikit susah payah. Setelah semua peralatan makan dibereskan, aku kembali mengutak-atik tombol-tombol untuk mencari cara mengembalikan sandaran kaki sialan itu ke posisi awal. Kudorong-dorong sekuat tenaga tapi gak ada yang berhasil. Akhirnya aku memutuskan untuk baca buku aja dan menghadapi yang harus dihadapi kalau sudah waktunya saja.

Di tengah-tengah kegiatan membaca, tiba-tiba mendapat pencerahan. Kenapa gak pake tombol yang sama yang tadi buat ngeluarin aja? Kucoba lagi tuh tombol. Kudorong sekeras mungkin tuh sandaran. Dan... bergerak! Akhirnya! Yay! Ternyata memang tombol itu. Dan ternyata memang butuh sedikit tenaga. Berhasilllll.

Sebelum mendarat, si pramugari menyuruhku mengembalikan sandaran kursi ke posisi awal. Tidak lupa dengan petunjuk "tombol yang paling belakang". Yang ITU sih aku tahu.

Monday, May 05, 2008

And The Award For Cheesiest Speech Goes To...

3
Hmm.. kemaren waktu lewat kampus kebetulan mendengar speech-nya para calon-calon Miss Kampus Kita Tercinta. Cukup menarik sebetulnya. Dua yang kuinget jelas:

Cewek-Entah-Siapa: "Saya dan teman-teman saya, keduabelas finalis yang ada di sini saat ini, semuanya berbeda-beda. Kami bagaikan pelangi yang berwarna-warni..."

Terakhir kali aku belajar tentang pelangi, kayanya warnanya cuma tujuh deh. So kira-kira kalo sampe dua belas ditambahin warna apa aja ya?

Cewek-Entah-Siapa-Lagi: "Hari ini... saya berdiri di sini... bukan karena kekuatan saya sendiri. Bukan karena kemampuan saya sendiri..."

Karena Cinta-kah? Itu loh, lagunya Joy si Indonesian Idol.

Cewek-Entah-Siapa-Lagi melanjutkan pidatonya, sayangnya bukan dengan kata-kata "Karena cinta". Lupa dia bilang karena apa. Tapi sumpah deh, poinnya adalah, waktu aku ngedengerin semua speech super puitis dan inspirasional itu, yang ada pengen ngakak keras-keras. Tapi kan gak enak, ntar disangka gak waras.

Tapi beneran deh. Mereka itu SERIUS ya? Mereka SERIUS berpikir pidato itu BAGUS? INSPIRASIONAL? OMG. Aku emang gak pernah tertarik untuk aktif dalam kegiatan sekolah atau apa, tapi... aku juga nggak pernah membayangkan kalo speech-speech itu bisa begitu... cheesy. Pretty much made me cringe. SERIUS DEH. Entah apa yang dijanjikan atau diajarkan kampus kami, tapi yang jelas itu benar-benar menggelikan sekali. Dan aku yakin orang yang nggak sesinis aku pun bakal setuju, jadi ini bener-bener penilaian yang objektif.

Ugh. Still can't get over how cheesy that whole thing was. UNBELIEVABLE.

Thursday, April 03, 2008

Another Dinner, Another Awkward Moment

3
Maaf, updatenya telat banget. Kejadian di bawah ini terjadi pada hari Minggu. Tapi karena satu dan lain hal (baca: life is being a bitch), baru bisa update sekarang. Jadi begini ceritanya. Keluarga besarku itu cukup multikultural. Bahkan keponakanku aja bule. Jadi nggak heran kalo aku punya sepupu-sepupu bule nun jauh (gak jauh si sebenernya) di Australia sana. Valen pasti demen dan girang banget deh kalo denger ini. Tapi maaf, saya gak norak kaya dia.. *ditimpuk Valen*

Yah jadi ceritanya salah satu sepupuku yang paling tua dateng hari Minggu kemaren. Iya, yang bule itu. Tapi kalo ada yang niat pengen minta dikenalin mending nggak usah, soalnya dia dateng ama pacarnya (tenang, bukan hanya Anda yang patah hati). Mo tau ganteng apa nggak? Ya pastilah... gen keluargaku gitu *dilempar bata*

Hmm.. jadi intinya pas ketemu di bandara aku mengulurkan tangan dengan sopan untuk salaman, tapi dia malah mendekatkan diri untuk cipika-cipiki. Jadi aku, walaupun tidak mengharapkan kontak sedekat itu, dengan senang hati melakukannya. Tapi mungkin budaya di sana bukan cipika-cipiki kali ya? Soalnya pas abis sekali tempel pipi, dia udah mau mundur lagi sementara aku dengan instingtif memalingkan muka untuk tempel pipi satunya. A little bit awkward there... tapi untung dia nyadar maksudku dan kami pun menyelesaikan ritual gak penting itu...

Sepanjang perjalanan pulang, mereka terkagum-kagum pada Jakarta yang memang memalukan ini. Pada dasarnya mereka mendapat kesimpulan bahwa kalo nggak ada polisi, apa aja boleh dilakuin. Hebat. Dan oh ya, kenapa sih orang bule punya kemampuan ekstrovert alami yang luar biasa? Dengan santai dan gampangnya mereka berdua langsung bisa ngobrol akrab dengan kami (baca: mama dan kakakku yang juga ekstrovert sejati tapi nggak mau bagi-bagi gen ekstrovertnya ke aku) serasa udah kenal lama padahal udah bertahun-tahun gak ketemu. Ada aja yang diomongin. Dan gaya mereka santai banget, sumpah bikin iri. Gak adil banget kalo kepribadian seseorang ditentuin ama di benua mana mereka dilahirkan.

Omong-omong, I love his voice. Ah.. I loooove it. Must. Not. Crush. On. My. Own. Cousin.

Betewe lagi, aksennya juga bagus. Aku biasanya benci aksen Australia karena 1) susah dimengerti dan 2) kedengerannya nyebelin. Tapi aksen dia enak didenger dan gampang dimengerti. Mantap deh...

Malem itu kita ada acara makan malem buat nyambut mereka. Aku berangkat belakangan sama papaku.. dan sempat berpikir ini acara resmi atau apa sampe sempet berniat pake dress (kasual sih, tapi tetep aja nggak pernah kulakukan). Untungnya gak jadi, karena ternyata bukan di hotel atau bahkan restoran tapi... di PIM. --;

Gak penting banget ya? Sebagai anggota klub ansos yang membanggakan, aku disediain tempat di ujung meja yang depannya gak ada siapa-siapa, terasing sendirian. Dengan lega aku makan dengan nyantai tanpa peduli orang lain sibuk berbasa-basi sendiri. Semua pada memandangku dengan kasian karena jauh dan dicuekin, tapi aku sih nyantai-nyantai aja. Aku malah sibuk memikirkan lagi nge-date ama aktor-aktor cakep seperti Michael Vartan atau Wentworth Miller... kebetulan kan kursi depanku kosong, jadi senyum-senyum ke arah sana pun gak masalah. Paling dikira agak gila sama orang sebelah... [/ansos sejati]

Abis makan jelas aja ada photo session. Bener-bener dah kaya di studio foto, kita foto ganti-ganti pose sampe jutaan kali dengan jutaan kamera. Sepupu-sepupu buleku yang malang pasti bertanya-tanya apakah di Jakarta bule segitu langkanya. Ataukah emang orang Jakarta norak semua. Aku belom bilang ya kalo di kerumunan ini ada tanteku yang dulu pernah kutulis di sini mencoba menyelundupkan botol Equil? Jelas aja semua ide foto ini datangnya dari dia. Setelah selesai berfoto-foto ria baru nyadar kalo background kami dari tadi adalah... Hydrant. Fantastis banget kan?

Setelah basa-basi mondar-mandir gak jelas gak penting buang-buang waktu lagi dan semua orang meributkan empek-empek yang ketinggalan di mobil berulang-ulang sekitar setengah jam kemudian, akhirnya pulang juga. Tanteku dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata lain selain mupeng melambai selamat tinggal pada sepupu buleku yang cakep, dan sumpah deh, dia bilang "Dadah"-nya juga dengan nada flirty gitu. Dasar awet muda...

Habis mereka pisah, jelas aja tanteku langsung mulai bergosip ria tentang gimana sepupuku waktu kecil dulu. Katanya sih dulu nakal banget, sempet jatoh di eskalatorlah, kejepit di pagerlah, atau jatoh dari lantai 3-lah (gak gitu ngerti, diduga ada unsur hiperbolis di sini). Intinya, bener-bener malam yang melelahkan.. tapi cukuplah untuk hiburan dan bahan tulisan blog. Sekarang, kembali ke life yang being a bitch tadi... *sigh*

Friday, March 28, 2008

A Bunch of Random Complaints (Because Customers Who Paid A LOT are Always Right...)

3
Ngomong-ngomong soal rasa bersalah yang berkaitan dengan kejujuran seperti yang diomongin di kelas Character Development tadi. Sudah bukan rahasia lagi kalo Mel dan aku suka melakukan fabrication seperti yang dibahas di presentasi kami sendiri tadi. Kupikir sih selama ini aku gak ngerasa bersalah. Gak terganggu sedikit pun. Udah terlanjur kesel gara-gara salah jalur padahal harusnya jadi penulis fiksi, akhirnya maksa menyalurkan bakat padahal harusnya gak boleh. Sebodo lah. Tapi entah kenapa, tiba-tiba beberapa hari yang lalu aku mimpi. Mimpi menyatakan kebohonganku di depan salah satu dosen yang ngajar di semester ini. Tentunya sebagai pecinta Alias sejati, mimpiku ada unsur-unsur espionage-nya dan alasan aku mengakui kebohongan masalah bikin interview itu adalah akibat sodium penthotal alias truth serum. Keren kan? *ditimpuk*

Yah, intinya aku nggak tau gimana cara kerja si serum kejujuran itu, tapi yang pasti dalam mimpi aku dituduh bikin wawancara palsu tapi dengan bangganya membantah kalo gak ada bukti itu palsu. Walaupun aku bermaksud bilang begitu, dan ngedenger diriku sendiri berkata begitu, tapi ternyata akibat serum sialan itu yang keluar dari mulutku dan didenger orang lain adalah hal yang sebenernya. Aneh memang. Namanya juga mimpi. Intinya ketahuan deh kalo tuh wawancara palsu. Aku bangun sambil merasa sedikit bersalah (dan oke, lega itu cuma mimpi). Terutama karena sang dosen yang 'ditipu' bukan termasuk dosen yang menyebalkan, walaupun agak membosankan. Ah, ya sudahlah. Paling nggak, hati nurani(?)ku masih ada dan mencoba memperingatkanku dari alam bawah sadar. Lebih baik daripada bisa menipu tanpa merasa bersalah sama sekali seperti yang dibilang si bapak tadi, kali ya.

Omong-omong lagi, pernah nyadar gak kalo di kampus kita itu suka ada troli? Kemaren aku lagi duduk di sekretariat jurusan trus menyadari keberadaan sebuah troli di deket pintu. Pertama aku bertanya-tanya buat apaan sih troli-troli itu? Ini kan bukan supermarket. Trus yang kedua aku bertanya-tanya dari mana sih mereka dapet troli? Adakah toko yang jualan khusus troli? (Seseorang yang sedang menunggu dengan bosan memang cenderung memikirkan pertanyaan-pertanyaan aneh gak penting seperti ini). Kemudian pertanyaan kedua itu terjawab dengan sendirinya waktu aku melihat logo di pegangan troli tersebut.

Yak... logo apalagi kalo bukan logo Hypermart.

Intinya... kampusku yang sangat mahal itu nyolongin troli Hypermart.

Bener kan? Kesimpulan yang tepat, kan? Nggak mengada-ada nih. Aku kan udah belajar Dasar-Dasar Logika. Ini sangat masuk akal.

Begitulah kampus saya. Dan omong-omong, kemaren aku lagi butuh-butuhnya internet dan di SEANTERO KAMPUS NAN BESAR itu gak tersedia sama sekali. Di perpus cuma dikit banget komputer yang internetnya nyala (jelas virus apa pun waktu itu yang ada di komputer ber-pop-up yang aku pake masih belum beres, gak heran banget walopun udah hampir SEMINGGU berlalu, dasar gak kompeten - dan omong-omong, BUKAN aku yang naro virus di sana, meskipun aku mungkin bakal dicurigai karena sidik jari orang terakhir yang memakainya sepertinya aku. Coba kalo aku beneran yang naro virusnya, seenggaknya bisa bangga kali ya?) dan semuanya dipake orang. Keliling-keliling berapa menit tanpa hasil, tahu kalo perpus itu pasti nggak bisa diandalkan akhirnya milih nyari warnet. Sampe mall, belom buka. Bagus. Berjalan ke warnet di deket tempat parkir, entah kenapa dah gak ada tuh warnet. Hebat.

JADI INTINYA KALO PERLU INTERNET DI KAMPUS HARUS KE MANA??

Nyebelin gila udah muter-muterin ngubek-ngubek seisi areal kampus gak ada internet tersedia barang sejengkal pun. MANA NIH FASILITAS YANG DIJANJIIN?

Capek deh komplain soal kampus melulu.